Selasa , 27 Mei 2014, 00:25 WIB

Alonso Kritik Ban Pirelli Yang Digunakan F1

Rep: Hilyatun Nishlah/ Red: Muhammad Hafil
Reuters/Albert Gea
Pebalap Ferrari, Fernando Alonso, berpose di depan tunggangan barunya Ferrari F138 saat sesi latihan di Sirkuit De Catalunya, Montmelo, Spanyol, Selasa (19/2).
Pebalap Ferrari, Fernando Alonso, berpose di depan tunggangan barunya Ferrari F138 saat sesi latihan di Sirkuit De Catalunya, Montmelo, Spanyol, Selasa (19/2).

REPUBLIKA.CO.ID, MONACO -- Ban Pirelli yang digunakan dalam Formula Satu dikritik oleh pembalap F1 asal Spanyol, Fernando Alonso. Ia mengkritik ban Pirelli setelah pertandingan Grand Prix F1 di Monaco pada Ahad (25/5), seperti yang dilansir BBC

Pembalap dari tim Ferrari itu mengatakan, ban Pirelli terlalu keras untuk mencengkram permukaan lintasan, sehingga sulit untuk dikendalikan. Pengemudi harus memberikan beberapa putaran untuk membuat ban nyaman sehingga mudah dikendalikan.

“Sudah jadi rahasia umum bahwa ban-ban ini terlalu keras,” ujar Fernando Alonso.

Ia menjelaskan, saat menggunakan ban yang normal dengan daya kendali yang baik, ban tersebut dapat bertahan selama dua putaran tetapi dapat melaju dengan cepat.

Sedangkan, dengan menggunakan ban-ban yang terlalu keras tersebut para pembalap dapat mengganti bannya pada putaran ke delapan atau sembilan namun, daya lajunya sangat lambat. 

Fernando Alonso yang pada pertandingan Grand Prix F1 di Monaco berakhir pada posisi keempat dengan waktu +00:32.452. Sedangkan pada posisi pertama ditempati oleh Nico Rosberg dengan waktu 1:49:27.661 dan pada posisi kedua ditempati oleh Lewis Hamilton dengan waktu+00:09.210 sedangkan pada posisi ketiga ada Daniel Ricciardo dengan waktu +00:09.614.

Kritik dari juara dunia dua kali tersebut telah menambah daftar keluhan mengenai ban Pirelli yang digunakan dalam F1. Bahkan, pembalap dari Force India Sergio Perez mengatakan, ban F1 pada musim ini memalukan. 

Saat menjadi penyedia resmi untuk F1 pada 2011, perusahaan ban Pirelli menyediakan ban yang berdaya tahan singkat, sehingga mengharuskan para pembalap untuk mengganti ban-bannya sekitar dua kali dalam satu balapan.

Oleh karena itu, perusahaan tersebut mempertimbangkan penggunaan mesin baru bertenaga hibrida dan memutuskan menggunakan teknologi ban yang lebih konservatif.