REPUBLIKA.CO.ID, MUNICH -- Upaya Federasi Balap Mobil Dunia (FIA) membuat balapan Formula 1 lebih ramah lingkungan dikeluhkan.
Direktur tim Mercedes AMG Petronas F1 Team Andy Cowell, menilai kebijakan tersebut terlalu mahal dan akan merugikan ajang balapan paling prestisius tersebut. Musim depan akan menjadi musim terakhir bagi tim-tim Formula 1 menggunakan mesin V8 (delapan turbin) dengan kapasitas 2,4 liter.
Memasuki musim 2014, FIA menerapkan aturan mesin V6 dengan kapasitas 1,6 liter. Aturan baru ini diterapkan FIA untuk membuat mobil-mobil balap F1 lebih hemat energi.
Menurut Cowell, aturan ini akan merugikan tim-tim kecil yang tidak memiliki fasilitas riset memadai. Aturan ini juga dinilai terlalu makan biaya bagi tim-tim besar. "Ini akan sulit berjalan secara ekonomi. Semestinya, F1 bisa lebih diperlakukan sebagai ajang balapan murni," kata dia seperti dilansir Crash, Ahad (13/1).
Selain Cowell, banyak kalangan menilai aturan baru FIA akan menurunkan kualitas F1. Pasalnya, pabrikan pemasok dipaksa membuat mesin yang jauh lebih berdaya tahan.
Di musim 2014, setiap pembalap hanya dibolehkan memakai lima unit mesin dalam setahun, dipangkas tiga unit dari delapan mesin yang dibolehkan saat ini.
Cowell mengatakan, pemangkasan ini membuat beban tiap unit mesin terancam overload. Dengan aturan baru, tiap mesin akan menempuh beban rata-rata 4000 kilometer atau dua kali lipat dari beban mesin saat ini. "Pembalap harus benar-benar pintar memanfaatkan mesin dan energi yang terbatas," ungkapnya.
Kendati demikian, Cowell mengaku siap dengan tantangan baru tersebut. "Tentu saja, ketika ada perubahan aturan yang signifikan akan ada rIsiko yang besar. Tapi, inilah F1, hanya juru mesin yang paling cerdik saja lah yang akan menang," ujarnya.