Thursday, 29 Zulhijjah 1435 / 23 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Lukman: Apresiasi Pemerintah untuk Pelatih Sangat Kurang

Friday, 10 August 2012, 21:45 WIB
Komentar : 1
  Jadi Setiadi berusaha mengangkat beban saat berkompetisi pada cabang angkat besi Grup B kelas 56 kg di Olimpiade London di Excel, Ahad (29/7). (Mike Groll/AP)
Jadi Setiadi berusaha mengangkat beban saat berkompetisi pada cabang angkat besi Grup B kelas 56 kg di Olimpiade London di Excel, Ahad (29/7). (Mike Groll/AP)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- - Pelatih angkat besi Indonesia, Lukman, mengatakan bahwa apresiasi dari pemerintah untuk para pelatih di Indonesia tergolong kurang jika dibandingkan dengan apresiasi yang diterima oleh para atlet.

"Saya sangat kecewa dengan apresiasi (bonus) yang diberikan pemerintah untuk para pelatih, profesi kami dianggap profesi yang tidak ada harganya," kata Lukman seusai hadir dalam diskusi olahraga "Menyikapi Hasil Olimpiade London 2012, Menyusun Strategi Pembinaan Olahraga Jangka Panjang Indonesia" di Jakarta, Jumat.

Lukman mengatakan bahwa bonus yang diterimanya tidak lebih dari 25 persen dari apa yang diterima oleh anak asuhnya Triyatno dan Eko Yuli yang masing-masing menerima bonus sebesar Rp 400 juta dan Rp 200 juta, sementara dia hanya mendapatkan bonus sebesar Rp 75 juta.

"Saya rasa pemerintah harus memberikan apresiasi kepada pelatih yang lebih wajar, empat kali saya membawa atlet Indonesia untuk Olimpiade namun saya hanya mendapatkan kecewa," tambah Lukman.

Lukman menambahkan bahwa sesungguhnya bukan permasalahan nominalnya, namun perbandingan yang cukup mencolok dari apa yang diterima oleh atlet dengan pelatih membuat dia merasa sangat kecewa.

"Di daerah saja, untuk pelatih diberikan 80 persen dari apa yang diterima oleh atlet, untuk kelas Olimpiade, saya mendapat kurang dari 25 persen," ungkap Lukman.

Lukman mengungkapkan bahwa keberhasilan Triyatno dan Eko Yuli tidak lepas dari peran seorang pelatih, dan sesungguhnya bukan hanya dia yang merasa apresiasi dari pemerintah sangat kurang namun banyak pelatih lain yang merasakan hal sama.

"Prestasi atlet akan baik itu tidak lepas dari peranan pelatih, saya sudah memendam rasa kecewa ini sejak lama, dan saya rasa ini sudah saatnya saya mengungkapkan," ujar Lukman.

Sesungguhnya, lanjut Lukman, banyak tawaran-tawaran dari negara lain seperti Thailand dan Malaysia yang menginginkan dia bisa melatih untuk atlet-atlet asal negara lain namun dia menolak.

"Komitmen saya untuk Indonesia sangat tinggi, namun saya hanya minta pemerintah lebih memperhatikan," ungkap Lukman.

Sebelumnya, pada Kamis (9/8) atlet Indonesia peraih medali Olimpiade London 2012 yaitu Triyatno dan Eko Yuli menerima bonus dari pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Bonus bagi peraih medali perak angkat besi yaitu Triyatno dan peraih medali perunggu yaitu Eko Yuli diberikan secara langsung oleh Menpora Andi Mallarangeng di Wisma Kemenpora Jakarta.

Triyanto berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp400 juta, Eko Yuli menerima Rp200 juta dan pelatih dari kedua atlet angkat besi tersebut memperoleh bonus sebesar Rp75 juta.

Peraih medali perak dan perunggu angkat besi Olimpiade London itu juga telah mendapatkan bonus dari PT KAI berupa uang tunai Rp500 juta untuk perak dan Rp250 juta untuk perunggu.

Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : Antara
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)((QS ar-Rum: 41))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...