Kamis , 23 November 2017, 14:53 WIB

Menkeu Kagum dengan Fasilitas Kompleks Olahraga GBK

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Israr Itah
Republika/Melisa Riska Putri
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Ketua Komite Olahraga Indonesia Erick Thohir mengunjungi Stadion Akuatik Gelora Bung Karno (GBK), Kamis (23/11).
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Ketua Komite Olahraga Indonesia Erick Thohir mengunjungi Stadion Akuatik Gelora Bung Karno (GBK), Kamis (23/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk pertama kalinya menengok venue olahraga di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan setelah dimulainya renovasi untuk menyambut Asian Games 2018. Dimulai dari menguji rumput dengan bermain bola di Stadion Utama GBK, ia mengenang masa lalunya yang gemar jogging di kawasan tersebut. 

Menurutnya, rumput yang digunakan cukup baik. "Lihat, kan ini tebal," ujarnya kepada awak media, Kamis (23/11) pagi.

Setelah berpanas ria, Menkeu bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Ketua Komite Olahraga Indonesia (KOI) Erick Thohir menaiki mobil golf yang dikendarai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menuju Stadion Akuatik. 

Stadion Akuatik ini diakui Menkeu merupakan kombinasi bangunan lama yang digunakan untuk olahraga polo dan renang. Namun dengan suasana berbeda.

Stadion Akuatik yang berada di GBK merupakan semi terbuka. Atlet, penonton maupun pengguna lainnya tidak akan merasa kepanasan atau takut kehujanan karena keberadaan atap di atasnya. Meski begitu, udara sejuk secara alami masih bisa dinikmati di dalam stadion.

Lokasi ketiga yang sempat didatangi rombongan tersebut adalah Istora yang merupakan tempat pertandingan bulu tangkis dan bola basket. "Ini gedung sangat klasik. Memorinya sangat banyak," kata dia.

Dulu, ia melanjutkan, saat pertama kali masuk ke Jakarta, Istora masih menjadi ikon terkenal ibu kota. Hal tersebut rupanya ingin coba dikembalikan tim arsitek Ikatan Aristek Indonsia (IAI). 

Menteri kelahiran Lampung ini kagum lantaran IAI mampu merepresentasikan nilai sejarah tapi tetap beradaptasi dengan kondisi saat ini. Terutama guna memenuhi kebutuhan generasi muda yang ingin mendapatkan koneksi dengan ruang publik. Bahkan, wajah Istora kini mampu meningkatkan gengsi Indonesia di mata dunia.

"Ini aset negara yang sangat berharaga di tengah kota, menjadi tempat pertemuan, memiliki kerindangan pohon yang luar biasa," ujar dia.

Aset luar biasa tersebut sudah seharusnya dimanfaatkan dan dijaga dengan baik oleh masyarakat. Rasa memiliki harus ada di hati masyarakat Indonesia karena anggaran yang digunakan dalam perbaikan semua venue olahraga ini adalah dari rakyat.

"Aset negara dibayar oleh pajak Anda semua," tegas dia.

 

Berita Terkait