Sabtu , 07 October 2017, 20:06 WIB

Asian Games 2018, Kemenpora Pilih Bubarkan Satlak Prima

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Ratna Puspita
ANTARA/Mohammad Ayudha
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memeluk seorang atlet saat menyambut kedatangan atlet National Paralympic Committee (NPC) di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Ahad (24/9). Indonesia berhasil menjadi juara umum pada kejuaraan ASEAN Para Games 2017 di Malaysia dengan total meraih 126 emas, 75 perak, dan 50 perunggu.
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memeluk seorang atlet saat menyambut kedatangan atlet National Paralympic Committee (NPC) di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Ahad (24/9). Indonesia berhasil menjadi juara umum pada kejuaraan ASEAN Para Games 2017 di Malaysia dengan total meraih 126 emas, 75 perak, dan 50 perunggu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengambil keputusan akan membubarkan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima). Peraturan Presiden (Perpres) tentang penghapusan badan olahraga nasional itu diundangkan paling lambat  pada November mendatang, atau sembilan bulan menjelang Asian Games 2018.

Menpora Imam Nahrawi mengatakan, alasan pembubaran tersebut objektif. Hasil buruk Indonesia dari SEA Games  Malaysia 2017, menjadi salah satu faktor. “Kami gagal meraih target dari yang sudah ditetapkan,” ujar dia kepada Republika, pada Sabtu (7/10).

Namun, Imam menegaskan, pembubaran Satlak Prima belum final. Menurut dia, rencana tersebut, masih dalam pembahasan Peraturan Presiden (Perpres) yang saat ini ada di meja Kementerian Sekertaris Negara.

Pembentukan Satlak Prima termuat dalam Perpres 22/2010 tetang Program Indonesia Emas yang diubah lewat Perpres 15/2016. Pembubaran Satlak Prim  mengharuskan pemerintah mencabut Perpres lama dan mengeluarkan yang baru. “Kami menunggu hasil final dari Perpres yang sedang dikaji di  Setneg,” ujar dia. 

Imam mengatakan selama Perpres tentang pembubaran belum dikeluarkan, Satlak Prima masih ada dengan segala fungsinya. 

Indonesia, dari SEA Games ke-29 itu, cuma mampu membawa pulang 38 medali emas dari total 191 perolehan medali. Posisi Indonesia tak beranjak naik dari SEA Games 2015, yaitu dengan cuma berada di peringkat ke-5. Padahal target yang sudah ditetapkan, harus lebih baik dengan minimal 47 sampai 62 medali emas.

Sekertaris  Kemenpora Gatot Dewa Broto menegaskan Kemenpora tak lagi mau kegagalan tersebut, terjadi di Asian Games 2018. “Kegagalan itu mendesak evaluasi lengkap musababnya. Intinya, pemerintah kecewa dengan hasil SEA Games lalu,” kata kepada Republika. 

Pemotongan birokrasi 

Gatot menerangkan, alasan lain pembubaran Satlak Prima, konsekuensi dari upaya pemerintah untuk memotong birokrasi dan administratif keuangan peningkatan atlet berprestasi. Satlak Prima merupakan muara pelatihan atlet nasional, yang disiapkan untuk membawa prestasi Indonesia lebih baik. 

Namun, Gatot menerangkan, sistem birokrasi dan keuangan pemerintah malah tak mendukung keberadaan Satlak Prima sebagai badan peningkatan prestasi olahraga nasional. “Dengan pola penyiapan prestasi atlet yang ada saat ini, pemerintah tidak yakin target Asian Games tercapai,” kata dia. 

Asian Games mendatang akan digelar di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September 2018. Pemerintah menargetkan posisi 10 besar, dengan raihan medali emas sebanyak 18 sampai 22.