Rabu, 8 Ramadhan 1439 / 23 Mei 2018

Rabu, 8 Ramadhan 1439 / 23 Mei 2018

Media Sosial Percepat Proses Seseorang Menjadi Teroris

Rabu 16 Mei 2018 15:12 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Friska Yolanda

Media sosial

Media sosial

Foto: ist
Hanya perlu waktu satu tahun bagi seseorang untuk menjadi teroris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses seseorang dari awal mengenal hal-hal radikal hingga melakukan aksi teror menjadi lebih cepat dengan adanya media sosial. Sebelum era media sosial datang, proses tersebut bisa memakan waktu lima hingga 10 tahun, kini hanya butuh waktu nol hingga satu tahun.

Hal itu didapatkan dari hasil studi yang dilakukan oleh pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Solahudin tahun lalu. Ia melakukan wawancara terhadap 75 orang narapidana terorisme. Salah satu pertanyaannya, yakni butuh waktu berapa lama untuk mereka melakukan aksi teror sejak pertama kali terpapar paham radikal.

(Baca: Kemenkominfo Akui Medsos Dorong Radikalisme)

"Sebanyak 85 persen terpidana terorisme sejak dia mulai kenal paham ISIS sampai dia melakukan aksi teror kurang dari satu tahun. Jadi, antara nol hingga satu tahun," ujar Solahudin dalam diskusi di Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta Pusat, Rabu (16/5).

Kemudian, ia membandingkan hal tersebut dengan narapidana teroris yang terpidana sejak 2002 hingga 2012. Pada era tersebut, media sosial belum semarak seperti saat ini. Rata-rata, kata Solahudin, mereka menjawab membutuhkan waktu antara lima hingga 10 tahun.

"Kemudian saya tanya, mereka punya akun social media? Hampir semua punya social media. Sehingga, saya bisa simpulkan, salah satu elemen yang mempercepat proses radikalisasi itu terkait dengan social media," kata dia.

(Baca: Pascaaksi Teror di Surabaya, Kemenkominfo Hapus 1.285 Konten)

Solahudin juga menuturkan, media sosial memang dapat digunakan sebagai wahana untuk meradikalisasi dan merekrut seseorang menjadi teroris. Intensifnya seseorang terpapar pesan berisi kekerasan atau kejahatan membuat seseorang dapat menjadi radikal.

"Saya sendiri melihat paling tidak kalau di studi-studi akademis, social media itu penting untuk proses radikalisasi dan rekrutmen," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES