Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

JK: Dunia Usaha Harus Saling Kolaborasi

Selasa 13 February 2018 01:33 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Wakil Presiden RI - Jusuf Kalla.

Wakil Presiden RI - Jusuf Kalla.

Foto: Republika/Iman Firmansyah
JK dorong negara Asia Tenggara dapat bekerja sama untuk menumbuhkan ekonomi digital

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menerima penghargaan Benevolence Award dari World Chinese Economic Summit (WCES) dan The Asian Strategy and Leadership Institute (ASLI). Jusuf Kalla mendapatkan penghargaan tersebut karena dianggap berjasa serta memberikan kontribusi dalam upaya penyelesaian konflik dan perdamaian.

Jusuf Kalla mengatakan, penghargaan ini penting untuk menciptakan harmonisasi di berbagai sektor, terutama ekonomi. Pertumbuhan wirausaha menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, dunia usaha harus saling berkolaborasi dalam menumbuhkan perekonomian.

"Konon katanya pemimpin di Cina sangat mengedepankan harmoni antara pengusaha Cina dan yang lain (non Cina), kolaborasi dan harmonisasi antar sektor lain sangat penting, kebijakan seperti di Indonesia ini tidak ada diskriminasi antarpengusaha," ujar Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Senin (12/2).

Menurut Jusuf Kalla kondisi politik, keamanan, dan sosial di kawasan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Dia mencontohkan, konflik yang terjadi di Timur Tengah disebabkan oleh adanya ketidakharmonisan antar negara. Oleh karena itu, Jusuf Kalla berpesan agar negara-negara di Asia Tenggara dapat menciptakan harmonisasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di regional.

"Kita tidak ingin seperti Timur Tengah, seperti Afrika, kita tidak ingin seperti negara yang gagal karena disharmoni di negara itu," kata Jusuf Kalla.

Dalam pidatonya, Jusuf Kalla menyoroti tentang pertumbuhan ekonomi digital yang cukup pesat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital ini juga memiliki dampak negatif yakni timbul monopoli seperti Facebook dan Microsoft. Oleh karena itu, Jusuf Kalla mendorong agar negara-negara di Asia Tenggara dapat bekerja sama untuk menumbuhkan ekonomi digital.

"Harmonisasi sangat penting, itulah mengapa hal ini bagi saya adalah bagaimana kita memperkuat kebersamaan bagaimana entrepreneurship, bagaimana pembelajaran yang bisa didapat dari yang lain," kata Jusuf Kalla.

Adapun penghargaan tersebut semestinya diserahkan kepada Jusuf Kalla dalam Gala Dinner The 9th World Chinese Economic Summit pada November 2017 lalu di Hong Kong. Akan tetapi, ketika itu Jusuf Kalla berhalangan hadir dan dia menyampaikan pidatonya melalui tayangan video. Jusuf Kalla memastikan, dirinya akan hadir dalam pertemuan World Chinese Economic Summit pada November 2018.

Utusan Khusus Preisden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin mengatakan, Benevolence Award merupakan penghargaan tertinggi dari para diaspora Tionghoa di seluruh dunia. Penghargaan ini diberikan kepada tokoh-tokoh dunia yang dianggap berjasa untuk mendekatkan dunia dengan etnis Tionghoa.

Tokoh yang pernah mendapatkan penghargaan ini antara lain Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, dan Duke of York, Prince Andrew.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES