Rabu , 04 October 2017, 19:20 WIB

BNPB: Gunung Agung Punya Karakter Unik Seperti Sinabung

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bayu Hermawan
Republika/ Wihdan Hidayat
Perkembangan Aktivitas Gunung Agung. Kepala Pusat Data Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memberikan paparan saat konferensi pers terkait perkembangan terkini Gunung Agung di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (25/9).
Perkembangan Aktivitas Gunung Agung. Kepala Pusat Data Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memberikan paparan saat konferensi pers terkait perkembangan terkini Gunung Agung di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (25/9).

REPUBLIKA.CO.ID, KLUNGKUNG -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan saat ini ada dua Gunung Api di Indonesia yang berstatus Awas, Gunung Agung dan Sinabung. Dua gunung berapi ini dianggap memiliki keunikan ketidakpastian kapan terjadi letusan.

"Ada ketidakpastian dari kedua gunung tersebut. Gunung Agung tidak dapat diprediksikan kapan akan meletus, sedangkan Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan kapan akan berhenti meletus," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (4/10).

Menurutnya setiap gunung api memiliki karakter dan keunikan berbeda-beda sehingga penanganan dampak yang ditimbulkan dari letusan gunung juga berbeda. Bahkan sosial dan budaya masyarakat yang terbentuk di tiap gunung pun berbeda.

Saat ini papar Sutopo, selain dua gunung api yang memiliki status Awas tersebut terdapat 127 gunung api aktif di Indonesia. Dan 17 gunung api diantaranya telah berstatus waspada (level 2). Lainnya berstatus normal.

Namun berbeda seperti Gunung Agung yang saat ini menunggu erupsi, sebaliknya Gunung Sinabung sejak status Awas, hingga saat ini hampir setiap hari meletus. Letusan disertai dengan lava pijar, gempa guguran, awan panas dan hujan abu.

"(Gunung Sinabung) Tidak dapat diprediksikan kapan letusan akan berhenti," katanya.

Sebelumnya Gunung Sinabung tidak pernah meletus selama 1.200 tahun. Tahun 2010, tiba-tiba meletus freatik hingga tahun 2011. Berhenti sesaat, kemudian tahun 2013 meletus menerus hingga sekarang. Kawasan rawan bencana terus meluas dibandingkan dengan sebelumnya. Di Gunung Sinabung, ribuan masyarakat harus mengungsi sejak 2013.

Bahkan ribuan pengungsi tidak boleh kembali ke rumahnya karena harus direlokasi. Jadi yang ditangani adalah pengungsi sementara dan pengungsi permanen atau yang harus direlokasi. Namun tidak ada yang tahu kapan mereka boleh pulang karena Gunung Sinabung belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir letusannya.

"Jadi sama seperti Gunung Agung yang tidak pasti kapan meletusnya, Gunung Sinabung pun memiliki keunikan ketidakpastian kapan berakhir meletusnya," ucapnya.

Berita Terkait