Ahad , 01 Oktober 2017, 23:03 WIB

Pariwisata Sumbang Devisa Terbesar Kedua

Red: Agung Sasongko
Antara/Hendra Nurdiyansyah
Wisatawan menikmati suasana sore di situs Candi Ratu Boko, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta. (ilustrasi)
Wisatawan menikmati suasana sore di situs Candi Ratu Boko, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Asisten Deputi Pengembangan SDM Kepariwisataan Kementerian Pariwisata Dr Wisnu Bawa Tarunajaya mengemukakan sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar kedua di Tanah Air setelah sektor minyak dan gas bumi.

"Pariwisata menjadi sektor penting penyumbang devisa bagi negara. Pada tahun ini pariwisata menduduki peringkat kedua penyumbang perolehan devisa. Harapannya tahun depan bisa menjadi nomor 1," kata Wisnu Bawa dalam sambutannya pada Pelatihan Dasar SDM di kampus C IKIP Budi Utomo Malang, Jawa Timur, di Malang, Ahad (1/10).

Untuk mewujudkan harapan menjadi yang pertama dan menggeser sektor minyak bumi dan gas tersebut, katanya, tentu dibutuhkan komitmen dalam menggali dan melestarikan alam. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah sektor SDM Kepariwisataan.

Sektor pariwisata, lanjutnya, juga menjadi sektor penting karena memiliki multiplayer effect dengan bertindak sebagai "leading sector", artinya ketika pariwisata berkembang, sektor lain akan berkembang. Logikanya, tidak mungkin seseorang berwisata ke Malang tapi tidak makan, tidak butuh penginapan, dan kebutuhan penunjang lainnya. 

Menurut dia, ke depan sektor pariwisata menjadi bidang yang menjanjikan di Indonesia dengan generasi muda sebagai penggerak, sekaligus ujung tombaknya. Oleh karena itu, pelatihan SDM kepariwisataan bagi mahasiswa dan pendidik maupun para pelaku usaha jasa pariwisata sangat penting.

Ia mencontohkan penerapan 3S di lingkungan Kementerian Pariwisata terus diintensifkan guna meningkatkan kinerja, khususnya di bidang kepariwisataan. Tiga S yang dimaksud Wisnu tersebut adalah yang pertama solid.

"Kita harus bersatu dan melupakan perbedaan. Kalaupun ada perbedaan harusnya tidak membuat seseorang mencari kesalahan orang lain, sehingga pekerjaan tidak terpengaruh oleh emosi," paparnya.

S yang kedua, katanya, adalah speed, yaitu kecepatan untuk memenangkan persaingan. Sebenarnya tidak ada kata yang kaya mengalahkan yang miskin, tetapi yang cepat akan mengalahkan yang malas. Dan, S yang terakhir adalah smart. "Bagaimana kita berfikir cerdas dalam menciptakan peluang ekonomi dan image pariwisata Indonesia," katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan Kota Malang tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam untuk pariwisatanya. "Oleh karena itu kita harus memaksimalkan sumber daya manusianya untuk berkreasi dan membuat event menarik, seperti budaya yang ada di wilayah masing-masing," tuturnya.

Apalagi, katanya, paradigma sekarang sudah bergeser, sekolah yang dulunya mencemaskan siswa dan menakutkan kini lebih menyenangkan, misalnya untuk sekolah pariwisata. Sehingga otak kiri dan kanan bekerja sesuai keseimbangan untuk aktualisasi dan mampu diimplementasikan saat dibutuhkan.

"Dan, pelatihan ini penting untuk optimalisasi potensi diri untuk menciptakan peluang dari sektor pariwisata yang ada di sekitarnya. Pariwisata itu bukan hanya alam yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi, tetapi seni dan budaya juga menjadi komponen penting untuk meningkatkan perekonomian masyarakat," ujarnya. 

Sumber : Antara

Berita Terkait