Senin , 25 September 2017, 13:49 WIB
Sukahet, Saksi Hidup Letusan Dasyat Gunung Agung

Ini Proyeksi Delapan Hal Terkait Kondisi Gunung Agung

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Agus Yulianto
FLICKR
Gunung Agung Bali
Gunung Agung Bali

REPUBLIKA.CO.ID, KLUNGKUNG -- Betapa dahsyatnya letusan Gunung Agung, di Provinsi Bali pada 1963. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet pun menjadi salah satu saksi hidup dari letusan dahsyat Gunung Agung tersebut.

Sukahet mengatakan, gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus adalah kekuasaan Tuhan yang sulit diprediksi. "Yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap saat menghadapi musibah, yaitu mengulurkan tangan pada saudara-saudara kita yang membutuhkan," katanya kepada awak media, Senin (25/9).

Sukahet yang juga merupakan penglingsir puri itu mengajak masyarakat berdoa dan bersabar menjalani semuanya. Pangelingsir atau penglingsir adalah sebutan untuk pemimpin puri sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri. Puri adalah tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih keluarga dekat raja-raja di Bali dan berkasta ksatria.

Sukahet mencoba memproyeksikan delapan hal terkait kondisi Gunung Agung saat ini. Pertama, letusan Gunung Agung kali ini akan jauh lebih lemah, bahkan kekuatannya kurang dari setengah kekuatan letusan 1963. Ini karena waktu istirahat Gunung Agung sampai saat ini 54 tahun.

Kedua, letusan hebat Gunung Agung 1963 hanya berdampak serius pada separuh dari Kabupaten Karangasem dan sebagian kecil Kabupaten Klungkung, yaitu wilayah di timur Tukad Unda. Kabupaten dan kota lainnya di Bali tetap aman.

Ketiga, penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Ngurah Rai, baik domestik maupun internasional masih normal. Ini mengingat posisi Gunung Agung dari bandara ada dalam radial 20 derajat dengan jarak lurus 33 mil atau 59 kilometer (km).

"Arah angin biasanya persis ke barat atau timur. Saat Oktober, muka angin mungkin sudah berembus dari barat ke timur," katanya.

Keempat, Sukahet sebagai umat Hindu Bali meyakini Pura Besakih dan Desa Besakih tetap aman. Kelima, sikap waspada, hati-hati, dan tindakan pencegahan terjadinya korban patut didukung dan dilaksanakan.

Keenam, Sukahet mengatakan jika Gunung Agung pada akhirnya meletus tahun ini, korban jiwa akibat letusan ditekan atau tidak ada.

Ketujuh, Sukahet meyakini wisatawan tetap banyak berdatangan ke Bali. Turis bahkan bisa menyaksikan aktivitas Gunung Agung dari Kota Klungkung atau Kintamani.

Kedelapan, dalam keyakinan Hindu, untuk mencapai keseimbangan alam, maka Ida Batara Ciwa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi melakukan perannya. Umat Hindu hendaknya tidak memaknai bencana alam sebagai kutukan, melainkan sebagai bentuk 'pralina' untuk mencapai keseimbangan baru yang lebih baik di alam.