Selasa , 12 September 2017, 19:38 WIB

Kekeringan Terkonsentrasi di Tiga Daerah Ini

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini
Republika/Rakhmawaty La'lang/ca
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar seluruh jajarannya melakukan antisipasi terjadinya kekeringan di seluruh wilayah Indonesia. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, kekeringan yang terjadi saat ini terfokus di daerah NTT, NTB, serta Jawa.

Berdasarkan data satelit, tercatat sebanyak 30 ribu hektare area di seluruh Indonesia pun mengalami kebakaran hingga saat ini. Kendati demikian, jumlah ini disebutnya lebih rendah tujuh persen dari tahun lalu. 

"Terkait dengan kekeringan, maka tadi konsentrasi ke NTT, NTB, Jawa. Nah itu untuk seluruh Indonesia areal kebakarnya sampai sekarang menurut data satelit itu 30 ribu hektare," ujar Siti di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (12/9).

Ia mengatakan, luasan lahan yang paling banyak terjadi kebakaran yakni di NTT dan Riau. Menurutnya, daerah savana di NTT menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran ini. Selain itu, kebakaran juga terjadi lantaran ulah para pemburu rumput. 

"Karena NTT kan daerahnya savana, ya mineral. Ya habis kebakar sebentar mati, rumputnya ganti rumput baru. Nah yang terjadi adalah itu ada yang dicari oleh pemburu, jadi dibakar oleh pemburu jadi dapat rumput," katanya.

Sementara itu, luas areal yang terbakar di Jawa mencapai 560 hektare dari 1.000 hektare yang ada. Lokasi kebakaran terjadi di daerah Jawa Timur seperti di Taman Nasional Baluran serta di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang juga diakibatkan oleh terbakarnya area savana. Ia mengungkapkan, kebakaran juga terjadi di daerah Jawa Barat. Namun luasan areanya terbilang lebih kecil, yakni 63 hektare.

"Di Jabar juga ada kebakaran tapi 63 hektare saja di Ciremei, Cikepuh, Gunung Guntur, Kamojang...Hotspot-nya emang di Jawa paling banyak di Jatim, 27 dari Juli sampai September sekarang. Terus di Jabar 23," kata Siti. 

Siti mengatakan, pada 2015, puncak hotspot terjadi pada September. Sedangkan pada 2016, puncak hotspot tercatat pada Agustus. Pada tahun ini hingga hari ini, Siti menyebut sebanyak 217 hotspot terdeteksi. Ia pun memprediksi titik hotspot akan bertambah hingga sekitar 700 titik. "Berarti akan ada 900 hotspot diproyeksikan. Berarti masih sama dengan periode puncak di tahun lalu. Jadi mudah-mudahan puncaknya juga di bulan September," ujarnya. 

Ia pun menegaskan, sejumlah daerah telah melakukan langkah-langkah antisipasi mengatasi kebakaran yang terjadi. Yakni dengan menyiapkan 26 pesawat waterbombing, di antaranya di Riau, Kalteng, dan juga Kalbar. Selain itu, waterbombing pun juga telah dilakukan dengan 49 juta liter air.

Siti meyakini, dengan dibangunnya sekat kanal, embung, serta membuat sumur bor maka akan dapat menyimpan lebih banyak air. Dalam rapat terbatas siang ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar seluruh menteri dan lembaga terkait melakukan antisipasi dan langkah penanggulangan bencana kekeringan. Di antaranya yakni dengan memberikan bantuan air bersih di daerah yang terdampak serta memeriksa kembali pasokan air untuk irigasi pertanian. Presiden berharap, stok bahan pangan di sejumlah daerah pun tidak mengalami kelangkaan serta harga tetap stabil.