Jumat , 08 September 2017, 19:12 WIB

Dubes: Kasus Rohingya Bukan karena Agama

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Winda Destiana Putri
EPA/Bagus Indahono
Aksi massa mengutuk kebiadaban militer Myanmar terhadap warga Rohingya di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, Jumat (8/9).
Aksi massa mengutuk kebiadaban militer Myanmar terhadap warga Rohingya di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, Jumat (8/9).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi menegaskan, munculnya kasus Rohingya bukan karena faktor sentimen agama. Dia memastikan kehidupan antar agama di Myanmar berjalan dengan baik, termasuk dengan umat Muslim lainnya.

Ito menerangkan, Kehidupan umat Manusia di Myanmar berjalan dengan tenang dan harmonis. Dia bahkan, masih bisa mendengar azan salat di beberapa masjid yang berada di Myanmar. Ditambah lagi, umat Muslim di sana terutama dirinya masih dapat melakukan pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha beberapa waktu lalu.

"Mereka menghormati kehidupan beragama di sana terutama umat Muslim. Saya sudah empat tahun di sana dan tidak sependapat kalau ada yang sebut konflik Rohingya karena agama," ujar dia.

Ito menilai, faktor pemicu masalah Rohingya itu banyak dimensi termasuk karena politik. Rohingya merupakan etnis yang masih berusaha mendapatkan persetujuan politik untuk hidup di Myanmar. 

Sementara dari sisi sosial, Ito menjelaskan, mereka berkehidupan dengan baik bersama masyarakat lokal. Mereka memiliki sejumlah lahan pertanian sebagai salah satu mata pencahariannya. "Mereka hidup, belanja dan dagang seperti biasa dengan lokal sampai ada serangan kelompok bersenjata yang jadi pemicu itu," tambah dia.