Selasa , 11 July 2017, 08:34 WIB

KBRI Kamboja Bantu Promosikan Produk UKM

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Yusuf Nugroho
Pengunjung mengamati produk usaha kecil dan menengah (UKM) berupa cinderamata berbahan kayu. .
Pengunjung mengamati produk usaha kecil dan menengah (UKM) berupa cinderamata berbahan kayu. .

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOM PENH - KBRI Kamboja menggandeng usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mempromosikan produk-produk Indonesia dalam acara Indonesia Trade and Tourism Promotion (ITTP) ke-11 di Phnom Penh. Acara ini diikuti 62 peserta, yaitu 26 perusahaan Indonesia dan 36 importir Kamboja.

Duta Besar RI untuk Kamboja, Pitono Purnomo, mengatakan pemberdayaan UKM merupakan inisiatif KBRI Kamboja untuk memperkenalkan produk yang lebih terjangkau kepada masyarakat Kamboja. Daya beli masyarakat Kamboja yang masih rendah menjadi alasan utama dari pemberdayaan ini.

"Walaupun Kamboja masih belum maju, tetap harus digarap sesuai dengan kapasitas dan kemampuan ekonominya. Tentunya kita tidak akan mempromosikan produk-produk yang nilainya tinggi dan harganya tidak terjangkau oleh masyarakat Kamboja," ujar Pitono saat ditemui Republika.co.id di kantor KBRI Kamboja, di Phnom Penh, Senin (10/7).

ITTP yang diselenggarakan di Koh Pich Exhibition Center, Phnom Penh, pada 7-9 Juli ini, merupakan kegiatan pameran perdagangan, investasi, dan pariwisata Indonesia. Format kegiatan ini akan menggabungkan konsep direct selling, business matching, dan promosi budaya yang akan memanfaatkan potensi Kamboja sebagai pasar alternatif bagi produk Indonesia.

"ITTP ini adalah pokok misi kita, yaitu diplomasi ekonomi, yang telah digalakkan oleh pemerintahan baru Indonesia," kata Pitono.

Ia menjelaskan, perusahaan-perusahaan yang ikut serta dalam ITTP di antaranya membawa produk batik, spare part, bahan bangunan, tisu, obat-obatan, hingga kendaraan seperti merek Toyota, Fortuner, dan Avanza. Menurut sumber KBRI Kamboja, nilai transaksi ITTP kali ini diperkirakan mencapai 170 ribu dolar AS atau naik sekitar 20 ribu dolar AS dari tahun lalu.

"Memang kita tidak bisa ambisius. Saya inginnya besar-besaran, tapi kita harus realistis dengan melihat kemampuan negara setempat. Kita memfasilitasi melalui pameran. Kita juga carikan partner mereka di Indonesia, maupun sebaliknya," ungkap dia.

First Secretary KBRI Kamboja, Avi Dewani Sari Harahap, mengaku ada kekhawatiran mengenai UKM-UKM Indonesia yang tidak tertarik dengan pasar Kamboja. Selama ini, sejumlah perusahaan Indonesia lebih memilih negara-negara ASEAN lain yang lebih prospektif seperti Singapura, dan Malaysia.

Yang diharapkan adalah produk kita dikenal dan ada kelajutan. Kita khawatir tidak terlalu banyak pengusaha Indonesia yang tidak tertarik dengan pasar Kamboja. Mereka tertarik ke singapura, malaysia, dan negara-negara asean yang lebih prospektif.

"Tapi tahun ini kita lihat peminat yang mendaftar sudah semakin banyak. Ada kesadaran dari pengusaha kita bahwa kamboja juga bisa menjadi pasar potensial," kata Avi.