Sabtu , 18 February 2017, 22:31 WIB

Indonesia Perlu Mulai Kembangkan Pariwisata Berkonsep Bisnis dan Leisure

Red: Hazliansyah
Antara/Nyoman Budhiana
Sejumlah seniman membawakan tarian Kelapa Sawit saat pembukaan Konferensi Minyak Sawit (IPOC) 2015 di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/11).
Sejumlah seniman membawakan tarian Kelapa Sawit saat pembukaan Konferensi Minyak Sawit (IPOC) 2015 di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola pikir dalam pengembangan pariwisata Indonesia saat ini dinilai masih berkutat pada leisure atau pelesir. Hal inilah yang membuat strategi pariwisata yang dikembangkan masih terbatas untuk segmen leisure.

Padahal tidak hanya sekadar leisure, pariwisata saat ini juga banyak yang mengedepankan sektor pariwisata berkonsep bisnis dan leisure alias "bleisure". Indonesia yang memiliki prospek sumber daya pendukung dinilai perlu untuk mulai serius mengembangkan.

"Sekarang sedang berkembang bisnis dan leisure traveller. Kalau hal itu bisa dimaksimalkan akan sangat lebih baik," ujar dosen dan peneliti bidang MICE Politeknik Negeri Jakarta Christina L. Rudatin.

Hal itu disampaikan Christina dalam Mini Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) yang mengangkat tema "Mengejar Kuantitas atau Kualitas Wisatawan Mancanegara" di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, segmen bisnis traveller memiliki karakteristik yang berbeda. Segmen ini umumnya mencari fasilitas dan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk pelayanan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar Indonesia mulai menggarap segmen bisnis traveller tersebut melalui strategi jitu.

"Saat ini yang terjadi fokus ke leisure tapi kerap lupa dengan infrastruktur dan pengembangan SDM-nya," katanya.

Christina mengatakan, segmen wisata MICE (Meeting Incentive Conference and Exhibition) potensial untuk digarap karena mudah memprediksikannya. "Setiap tahunnya mayoritas event bisa diprediksi," katanya.

Indonesia memiliki 16 destinasi yang difokuskan pemerintah untuk destinasi wisata MICE. Tapi sayangnya ternyata sampai saat ini mayoritas masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali sebab kedua kota tersebut yang dianggap paling siap dari sisi aksesibilitas dan fasilitas.

"Jadi untuk MICE mau tidak mau harus fokus satu-satu pada beberapa destinasi yang memang sudah dianggap siap terlebih dahulu," katanya.

Secara keseluruhan, ia melihat Indonesia baru memiliki sekitar tujuh destinasi yang dianggap paling siap sebagai destinasi wisata MICE.
 
Ia berharap ke depan, akan ada lebih banyak destinasi wisata MICE selain adanya kebijakan atau strategi pengembangan pariwisata yang mendukung semakin berkembangnya "bleisure".


Sumber : Antara