Sabtu , 18 Februari 2017, 10:46 WIB

Kualitas dan Kuantitas Wisman tak Dapat Dipisahkan

Red: Hazliansyah
Antara
Sejumlah wisatawan lokal dan mancanegara menaiki kapal cepat menuju Gili Trawangan di pelabuhan Senggigi, Kecamatan Batulayar, Gerung, Lombok Barat, NTB, Kamis (29/9).
Sejumlah wisatawan lokal dan mancanegara menaiki kapal cepat menuju Gili Trawangan di pelabuhan Senggigi, Kecamatan Batulayar, Gerung, Lombok Barat, NTB, Kamis (29/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- General Manager Pacto Tour Rika Lestari mengatakan, berbicara segmen pariwisata tidak bisa memisahkan antara kuantitas dan kualitas. Keduanya, menurut pelaku industri pariwisata ini, berkaitan dan saling menopang. Terlebih bagi Indonesia yang memiliki destinasi beragam.

"Kalau bicara kualitas dan kuantitas wisatawan, keduanya harus berjalan seimbang," ujar Rika Lestari dalam mini Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Jumat.

Sebagai negara dengan pariwisata yang tengah berkembang, Indonesia masih membutuhkan kuantitas untuk mengejar pasar. Hanya saja untuk destinasi yang permintaanya sangat tinggi seperti Bali, Gili atau Yogyakarta, dinilai tidak elok kalau terus dijejali dengan tolok ukur kuantitas.

Hal ini lantaran mulai terbatasnya infrastruktur yang membuat destinasi menjadi penuh sesak.

"Kita jejali lagi dengan parameter kuantitas akan sangat tidak elok. Alangkah baiknya mulai difilter dan fokus bagaimana membuat kualitas yang lebih baik sehingga membuat spending wisatawan lebih besar," kata Rika.

Kemudian secara perlahan, wisatawan diarahkan ke wilayah atau destinasi baru. "Itu baru bisa berdampak baik bagi perkembangan wisata dan ekonomi masyarakat dan negara," ujar dia.

Karena itu ia menilai pemerintah sudah harus bisa mengarahkan dengan benar sehingga industri dapat sejalan dalam memasarkan pariwisata Indonesia.

"Jadi tidak dapat dipisahkan kualitas dan kuantitas, hanya tinggal bagaimana pemerintah mengarahkannya dengan benar," kata dia.

Tahun ini, pemerintah menargetkan mampu mendatangkan 15 juta wisman atau meningkat signifikan dibandingkan 2016 sebesar 12 juta.
 
Sejumlah pihak berpendapat target wisman yang ditetapkan pemerintah masih mengacu pada target jangka pendek atau jumlah yang besar yang mengarah pada pariwisata massal yang bisa mengundang dampak kerusakan lingkungan.

Sebagian menginginkan Indonesia lebih mengacu pada target kualitas wisman dengan spending yang tinggi dan lama tinggal yang lebih panjang.

Berita Terkait