Jumat , 02 September 2016, 16:21 WIB

LIPI Kritik Rencana Pendirian Pusat Riset Beras di Papua

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Yusran Uccang
Petani menarik kudanya yang mengangkut padi hasil panen di Persawahan Pattalasang, Sunggumina, Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (11/8).
Petani menarik kudanya yang mengangkut padi hasil panen di Persawahan Pattalasang, Sunggumina, Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (11/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengkritik rencana jaringan Diaspora Indonesia-Amerika Serikat untuk membangun pusat penelitian tanaman padi di Merauke, Papua. Yakni, Papua International Rice Research Center (PIRRC). Diaspora Indonesia memprediksi, PIRRC akan mendukung swasembada beras nasional.

Menurut Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain, langkah tersebut kurang sesuai dalam konteks keberagaman pangan di Indonesia, khususnya Papua.

"Kalau dari perspektif kebijakan ketahanan pangan berbasis diversifikasi pangan, maka menurut saya kurang pas," kata dia dalam pesan singkatnya, Jumat (2/9).

Iskandar menjelaskan, institusi riset serupa sudah berdiri di Filipina. Ada ribuan peneliti yang terlibat di dalamnya. Termasuk peneliti asal Indonesia.

Karenanya, lanjut Iskandar, sebaiknya pemerintah melakukan identifikasi potensi bahan pangan yang dominan di pelbagai daerah Indonesia. Kemudian, hasil identifikasi itu menjadi landasan bagi penguatan ketahanan nasional, khususnya pangan, baik beras maupun non-beras.

Iskandar menilai, wacana pembangunan pusat riset perlu peka terhadap keberagaman makanan pokok di tiap daerah. Dengan begitu, kalangan petani lokal juga akan terbantu. Wilayah Indonesia timur kaya akan sumber karbohidrat selain beras, antara lain sagu dan jagung.

"Kemudian kita bangun pusat riset yang kuat untuk pengembangan komoditi terpilih tersebut untuk menghasilkan benih-benih unggul yang akan ditanam oleh para petani kita dengan tingkat produksi yang tinggi namun dengan biaya seefisien mungkin," kata dia.

Diketahui, rencana pembangunan PIRRC merupakan bagian dari misi memperkuat pendidikan tinggi di Bumi Cendrawasih. Kini, tim akademisi diaspora Indonesia masih mengevaluasi rencana tersebut.

Sementara ini, diaspora Indonesia telah menemukan potensi lahan seluas 1,2 juta hektare yang ideal untuk ditanami padi di sekitar Merauke, Papua. Produktivitasnya mencapai tiga ton gabah per hektare.