Sabtu , 09 January 2016, 15:48 WIB

Ini Kunci Sukses Pekerja Sektor Pariwisata di Era MEA

Red: Heri Ruslan
dok kemenpar
Wonderful Indonesia.
Wonderful Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah dimulai. Untuk dapat bersaing di era MEA, para pekerja di sektor pariwisata Indonesia diminta untuk bersikap terbuka dalam menerima hal-hal baru dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Pengamat ekonomi dan pariwisata Popy Rufaidah menambahkan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga perlu menghidupkan sikap terbuka dan siap menerima kritik membangun agar sektor pariwisata Indonesia mampu bersaing di era MEA.

Direktur Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran itu sependapat dengan pernyataan Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri yang menyebut bahwa tenaga kerja sektor pariwisata Indonesia paling siap menghdapi era MEA, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Dalam rapat kerja antara Kementerian Tenaga Kerja dengan DPR RI, Jumat (8/1), Menaker menyebut pekerja sektor pariwisata paling siap menghadapi MEA, karena standar kompetensinya sudah sama dengan negara-negara lain. Hanif mencontohkan, standard cleaning service di hotel A pasti sama dengan hotel B di negara lain.  Menaker mengungkapkan, kesiapan SDM sektor pariwisata itu tak lepas dari kerja sama intensif yang terjalin antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pariwisata.

Popy menambahkan, tersebarnya tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor pariwisata di seluruh dunia, juga turut memberikan andil besar dalam terbangunnya kesiapan tersebut. Hubungan yang intens dengan budaya dan kebiasaan warga dunia, menurut dia, membuat sikap para pekerja pariwisata menjadi terbuka (open minded) dan senantiasa siap untuk berubah menjadi lebih baik.

“Hubungan dan pengenalan budaya dan orang-orang luar juga penting dalam membangun sikap terbuka,” ujar Popy dalam keterangannya, Sabtu (9/1).  Ia menambahkan, ketika semua itu kemudian mendapatkan dorongan kuat dari pimpinan tertinggi Kemenpar, efek perubahan yang terjadi di sektor pariwisata itu wajar terkesan luar biasa.

“Jadi, Menpar dalam hal ini telah menjadi katalisator dalam membangun kesiapan dan sikap untuk terus menerus menjadi lebih baik di kalangan pekerja pariwisata,” kata Popy. "Di Jepang, sikap itu disebut kaizen.”

Sebelumnya, Asdep Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanega Kemenpar Noviendi Makalam menegaskan, secara umum kesiapan SDM sektor pariwisata Indonesia bahkan menempati posisi kedua setelah Singapura.

Menurut Noviendi, pekerja Indonesia memiliki keunggulan khas dalam hubungan bermasyarakat, yakni keramahan kepada pendatang dan tamu. Ia menyebut keunggulan itu sebagai Indonesian Hospitality yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia.

Kemenpar, kata dia, terus menggenjot upaya sertifikasi terhadap SDM di sektor pariwisata. Saat itu Noviendi mengklaim, sertifikasi kompetensi tenaga kerja bidang pariwisata di ASEAN, hampir 80 persen di antaranya berasal dari Indonesia dan sepenuhnya siap bekerja di negara-negara Asia Tenggara.  Setiap tahun, lanjut dia, Kemenpar mampu melakukan sertifikasi bagi 5.000 tenaga kerja bidang pariwisata, selain sertifikasi yang dilakukan oleh pihak swasta.