Rabu , 25 November 2015, 05:30 WIB

Lembaga Anti-Rasisme Eropa: Pentingnya Islam Moderat Hadapi Terorisme

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Bilal Ramadhan
Reuters
Kaum Muslim Italia menggelar aksi berjudul 'Not in My Name' yang mengatakan teror di Paris terjadi bukan atas nama umat Muslim. Dan, Islam adalah agama perdamaian.
Kaum Muslim Italia menggelar aksi berjudul 'Not in My Name' yang mengatakan teror di Paris terjadi bukan atas nama umat Muslim. Dan, Islam adalah agama perdamaian.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Serangkaian serangan yang terjadi di berbagai belahan dunia menyebabkan Islamophobia kian banyak muncul di Eropa. Mengenai Islamophobia di Eropa tersebut, penting adanya penerapan Islam moderat.

Hal tersebut diungkapkan Direktur European Network against Racism di Belgia, Michael Privot pada Konferensi Ulama, Cendekiawan Muslim, Ulama, dan Sufi sedunia keempat (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Selasa (24/11).

"Langkah yang dapat diambil untuk mengatasi Islamophobia antara lain dengan mendorong Indonesia berbagi pengalaman dan praktik terbaiknya dalam penerapan Islam moderat dan toleransi beragama ke seluruh dunia terutama negara-negara di Eropa," kata Privot dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri.

Indonesia, ia melanjutkan, perlu mencatat pengalaman tersebut dan menerjemahkannya ke dalam teks terbitan bahasa Inggris serta menguatkan jaringan ulama dari berbagai kawasan termasuk Eropa.

ICIS keempat ini diselenggarakan atas kerjasama International Conference of Islamic Scholars (ICIS), Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, JATMAN dan Kementerian Luar Negeri.

Konferensi diikuti oleh 65 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara, 500 ulama dari seluruh Indonesia, para akademisi dan para Duta Besar negara sahabat. Konferensi ICIS sebelumnya telah dilaksanakan tiga kali pada 2004, 2006 dan 2008.