Senin , 23 March 2015, 07:07 WIB

'Belum Tentu TNI Libatkan Militer Amerika Hadapi ISIS'

Rep: C82/ Red: Angga Indrawan
Antara/Widodo S. Jusuf
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (kiri) berbincang dengan Wakil Kapolri Komjen Pol. Badrodin .
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (kiri) berbincang dengan Wakil Kapolri Komjen Pol. Badrodin .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panglima TNI Jenderal  Moeldoko mengatakan militer Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memerangi kelompok radikal ISIS. Kesepakatan tersebut dicapai saat ia menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat Robert O Blake di Kantor Panglima TNI, beberapa waktu lalu.

Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengatakan, kerja sama tersebut sah-saja karena berkaitan dengan persoalan ISIS yang notabene merupakan gerakan radikal dari luar dan membahayakan integritas NKRI.

"Saya kira kerja sama itu bukan berarti tentara Amerika masuk ke Indonesia dan sebaliknya. Kerja sama itu bisa saling tukar informasi. Kerja sama yang paling utama itu adalah pertukaran informasi," kata Hasanuddin kepada Republika, Ahad (22/3).

Selain itu, politikus PDI Perjuangan itu mengatakan, kerja sama juga dapat berbentuk latihan bersama dalam menghadapi ISIS. Namun, ia menilai, negara belum akan melibatkan pihak asing dalam menghadapi persoalan terorisme di Indonesia, termasuk di Poso.

"Tidak sampai situ. Belum. Itu harus dengan sebuah perjanjian pertahanan (antar negara). Enggak bisa," ujarnya.

Jenderal Moeldoko sebelumnya mengatakan, TNI akan menggelar latihan militer dalam jumlah yang relatif besar di Poso karena tidak ingin Poso menjadi tempat yang nyaman bagi tumbuhnya ISIS.

Mengenai dipilihnya Poso sebagai tempat latihan militer Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) tersebut, Hasanuddin mengatakan itu dikarenakan Poso memang memenuhi persyaratan.

"Poso itu memenuhi dua syarat, satu tempat berlatih karena masih ada banyak sungai, gunung, laut, memenuhi syarat," jelas Hasanuddin.