Senin , 27 October 2014, 20:24 WIB

Korban Plagiat Menterinya Jokowi Sindir Revolusi Mental

Red: A.Syalaby Ichsan
Agung Supriyanto/Republika
Marwan Jafar
Marwan Jafar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivis dan wirausahawan muda Jusman Dalle mempertanyakan terpilihnya Marwan Jafar sebagai anggota Kabinet Kerja Joko Widodo. Jusman yang diduga menjadi korban plagiasi politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut pun sanksi terhadap revolusi mental yang diusung Jokowi.

"Pelaku plagiat ditunjuk jadi menteri? Republik berpenduduk 250 juta jiwa ini seperti krisis orang berintegritas & kita dianggap lupa ingatan,"cuit Jusman lewat akun twitter-nya @JusDalle.

Seolah menyindir posisi baru Marwan yang mendapatkan pos Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Jusman pun mencuit "Menteri Pembangunan Pikiran Tertinggal". Tak hanya itu, dia pun me-retweet akun @Kalimshiddiqi. "Marwan jafar orang yg pernah plagiat karyanya bro @JusDalle jadi mentri... #Revolusimental :D".

Artikel aktivis Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tersebut pernah dimuat di portal berita Okezone pada 25 Oktober 2011 dengan judul 'Quo Vadis Libya'. Hanya, isi artikel tersebut diduga diplagiat oleh Marwan lewat artikel yang dimuat di Koran Tempo pada Jumat, 13 Januari 2012 dengan judul 'Pengelolaan Energi Liby Pasca-Qadafi.


Berikut perbandingan dua artikel tersebut.

Artikel Jusman Dalle

"Tanpa maksud untuk menggeneralisir, namun fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, Barat melakon ganda. Berkawan dengan yang manut dan murka pada yang dianggap membangkang.

Apakah lagi dengan semakin rontoknya ekonomi Barat akibat krisis 2008 yang lalu, dan ancaman depresi ekonomi di tahun-tahun mendatang. Mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi di tengah kebangkitan ekonomi Cina (negara komunis) yang awal tahun ini menjadi Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China sukses menggeser Jepang yang selama ini merupakan sektu Barat.

Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi Barat mengapa begitu agresif membantu upaya menggulingkan Khadafi. Bahwa Negara-negara yang kini bergerak menguasai ekonomi global, adalah mereka yang anti kapitalis. Atau paling tidak, mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideology komunis. Bahwan diketahui bahwa di era Khadafi, ternyata alianasi Cina-Libya begitu kuat.

Selama ini, kebutuhan energy AS banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju dan juga membutuhkan energi untuk akselerasi pertumbuhan ekonominya. Artinya bahwa Barat akan kehabisan pasokan energi jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran mereka pastinya menjadi stimulus atas pelbagai jalan untuk melanggengkan hegemoni."

Artikel Marwan Jafar


"Tanpa bermaksud menggeneralisir, tapi fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, Barat berlakon ganda. Berkawan dengan yang tunduk dan murka kepada yang dianggap membangkang.

Ketika serangan udara militer sekutu ke basis-basis pertahanan lybia, bagi oposan Libya, serangan sekutu merupakan berkah dari langit, yang akan membebaskan negara kaya minyak itu dari genggaman diktaktor Qadafi. Inilah bentuk kolaborasi asing yang transaksional. Dan kini patriotisme menjadi mimpi di siang bolong di Libya. Setelah diluluhlantahkan bumi Libya dan memakzulkan Qadhafi, pasukan asing yang “berjasa” itu pasti meminta imbalan.

Terlebih dengan semakin rontoknya ekonomi Barat akibat krisis 2008, dan ancaman depresi ekonomi di tahun-tahun mendatang. Mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi di tengah kebangkitan ekonomi Cina yang telah menjelma menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Cina sukses menggeser Jepang yang selama ini merupakan sekutu Barat.

Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi Barat mengapa begitu agresif membantu upaya menggulingkan Khadafi. Kita tahu  negara-negara  yang kini bergerak menguasai ekonomi global adalah mereka yang antikapitalis. Atau paling tidak, mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideologi komunis. Di era Khadafi, ternyata alianasi Cina-Libya begitu kuat.

Selama ini, kebutuhan energi Amerika banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju dan juga membutuhkan energi untuk akselerasi pertumbuhan ekonominya. Artinya bahwa Barat akan kehabisan pasokan energi jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran mereka pastinya menjadi stimulus atas pelbagai jalan untuk melanggengkan hegemoni."

Berita Terkait