Jumat, 07 Februari 2014, 15:11 WIB

TNI AL: Tragedi Usman Harun Harusnya Sudah Selesai

Rep: Andi Mohammad Ikhbal/ Red: A.Syalaby Ichsan
Radar Cirebon
Seragam TNI AL (ilustrasi)
Seragam TNI AL (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mabes TNI AL menganggap peristiwa sejarah yang melibatkan dua prajurit KKO, Usman Harun sudah selesai. Seharusnya Pemerintah Singapura tidak perlu mengajukan protes atas penamaan kapal perang yang diambil dari nama pahlawan nasional tersebut.

Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati mengatakan, pada sekitar tahun 1970-an, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew mengunjungi dan menabur bunga di makam Usman Harun. Menurut dia, sikap tersebut memberikan simbol bahwa peledakan bom yang dilakukan kedua prajurit tersebut, hanya sejarah.

"Itu harusnya menjadi pertimbangan, tidak ada masalah lagi. Namun kenapa saat kami memberikan nama kapal perang Usman Harun, mereka malah mempersoalkan kembali," kata Untung saat dihubungi RoL, Jumat (7/2).

Lagipula, menjadi suatu hal yang wajar kalau ada figur yang dianggap pahlawan di satu negara, namun punya citra buruk di luar. Meski, Singapura menilai keduanya negatif, namun bagi Indonesia, Usman dan Harun adalah pahlawan.

Usman Haji Mohammad Ali dan Harun Said merupakan dua prajurit Korps Komando Operasi (KKO) pada periode 1960an, atau yang disebut Marinir AL sekarang ini.

Keduanya diberi gelar pahlawan nasional setelah dihukum mati oleh Pemerintah Singapura lantaran diduga melakukan aksi terorisme di Macdonald House.