Thursday, 22 August 2013, 13:39 WIB

'Ide Tes Keperawanan Mengadopsi Konsep Yahudi'

Rep: M Akbar/ Red: Heri Ruslan
Tes Keperawanan tak proporsional
Tes Keperawanan tak proporsional

REPUBLIKA.CO.ID, Munculnya ide tes keperawanan ternyata mendapat tentangan keras dari Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang, Achmad Badawi.

Ia tak yakin dengan dilakukannya tes semacam ini kepada pelajar akan bisa menurunkan angka pergaulan bebas remaja.

''Saya rasa (tes keperawanan) itu tidak penting. Justru itu menyalahi konsep sunatullah dan menjatuhkan psikologi anak,'' kata Badawi kepada Republika di Jakarta.

Secara cukup keras, Badawi menilai ide tes keperawanan ini tak ubahnya sikap orang-orang Yahudi. Orang Yahudi itu, kata dia, mengerti dan memahami isi Alquran. Namun orang Yahudi justru tidak mau mengakui dan melaksanakan isi Alquran tersebut.

Melakukan hubungan badan bagi pasangan yang belum resmi menikah, kata Badawi, adalah hal yang sangat dilarang di dalam agama. Tapi pada kenyataannya, di luar negeri sana justru yang terjadi sebaliknya. Pergaulan bebas menjadi hal yang lumrah dilakukan meski mereka menyadari hal tersebut dilarang oleh agama.

''Mereka (orang Yahudi) itu suka memutarbalikkan. Nah kalau saya melihat ide tes melakukan keperawanan ini adalah konsep Yahudi yang memang gemar melanggar dan memutarbalikkan kebenaran,'' ujarnya.

Badawi juga melihat gagasan melakukan tes keperawanan ini secara hukum syar'i terkesan sangat mengada-ada. ''Nantinya hanya akan menjadi kegenitan buat kepala sekolahnya saja. Kasihan masyarakat. Jadi saya sangat tidak setuju,'' tandasnya.

Ia mengimbau agar dalam upaya mengurangi pergaulan bebas di kalangan generasi muda adalah mengajarkan mereka nilai-nilai agama. Dekatkan pula generasi muda itu, kata dia, dengan Alquran. ''Saya sangat yakin adanya tes keperawanan itu akan bisa membuat turunnya angka pergaulan bebas di kalangan generasi muda. Jadi janganlah ngomong soal keperawanan untuk mengurangi pergaulan bebas, tetapi ajarkanlah anak-anak kita Alquran. Itu jauh lebih penting,'' saran Badawi.

Badawi sangat sepakat untuk mengajak anak-anak generasi muda agar dekat dengan agama perlunya teladan yang diberikan oleh orang tua. Jika orang tua tak lagi mampu memberikan teladan, ia merasa tak heran jika anak-anak muda itu mencari bentuk teladan lain.

Mengenai munculnya wacana lebih baik melakukan tes kewarasan kepada para pejabat publik ketimbang melakukan tes keperawanan kepada pelajar, Badawi menjadi orang yang sangat setuju.

''Pejabat yang masih suka korupsi itu sebaiknya dihukum mati saja. Nah untuk bisa mengurangi perilaku doyan korupsi itulah maka perlu kiranya dilakukan tes kewarasan kepada mereka. Jadi bukan tes keperawanan,'' sergah Badawi.

loading...