REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah Hortikultura dipastikan absen pada perayaaan Agrinexpo ke-7 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan. Pameran produk pangan dan agribisnis tahunan ini tidak lagi memberi subsidi untuk pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di bidang hortikultura.
"Belum ada satu pun yang konfirmasi," ujar Ketua Penyelenggara Agrinepo 7, Rifda Ammarina di Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (21/3).
Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi IPB, Arif Imam Suroso mengatakan prihatin dengan kondisi ini. Absennya pelaku UKM hortikultura menunjukkan komoditas ini tengah mengalami masa sulit.
"Ini juga berkaitan dengan derasnya arus ekspor horti ke Indonesia," ujarnya saat konferensi pers di Kebayoran Baru, Kamis (21/3).
Ia pun khawatir masa depan pertanian Indonesia akan semakin suram. Sebab, belum terlihat solusi mengatasi permasalahan petani, termasuk masalah kepemilikan lahan.
Sebanyak 86 persen petani dikatakan hanya memiliki lahan garapan sebesar 0,6 hektare. Padahal dibutuhkan lahan yang mampu menyediakan kebutuhan nasional yang sangat banyak.
Pada tahun ini terjadi penurunan peserta yang cukup signifikan. Hanya 173 stand yang ikut dalam pameran kali ini. Sedangkan pada tahun lalu peserta mencapai 400 stand. Panitia optimis jumlah peserta pameran akan bertambah mendekati acara yang akan dilangsungkan pada 5-7 April mendatang.
Beberapa Kementerian positif ikut bergabung meramaikan pesta agribisnis ini. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) pun bergabung untuk pertama kalinya.
Acara ini juga didukung Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Kesehatan.
Ketua Penyelenggara Agrinex Expo 2013, Rifda Ammarina mengatakan pihaknya berharap pemerintah berkontribusi memberikan suntikan dana untuk kelangsungan pameran ini.
Kementan pada tahun ini menganggarkan Rp 20 miliar untuk pengadaan pameran agribisnis. Namun Agrinexpo berlangsung tanpa dukungan dana dari sponsor. "Ada kebijakan dan harga baru, sedangkan tidak ada satu pun sponsor. Makanya berat untuk UKM hortikultura," kata Rifda.