Ahad , 17 March 2013, 19:59 WIB

Wow, Profesor Jepang Minati Hubungan Komik dengan Wayang

Rep: Rina Tri Handayani/ Red: Heri Ruslan
screenshoot/KPO
Wayang golek
Wayang golek

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG -- Profesor dari Universitas Osaka Jepang, Madoka Fukuoka mengaku tertarik terhadap hubungan antara kesenian wayang dengan komik wayang.

Dia mengaku ketertarikan tersebut berawal dari rasa penasaran. Menurutnya, wayang biasanya dimainkan dalam satu lakon atau episode tapi penonton sudah mengetahui seluruh cerita.

‘’Saya agak heran juga mengapa mereka bisa tahu seluruh cerita,’’ ujarmya saat pertunjukan wayang golek di Taman Budaya Bandung, Ahad (17/3).
 
Menurutnya, berdasarkan jawaban Sastrawan Sunda, Ajib Rosidi, pengetahuan seluruh cerita yang umumnya kisah-kisah Hindhu khususnya wayang purwa tersebut didapat dari berbagai cara seperti menonton atau membaca buku.

Selain itu, berasal dari cerita dari orang tua. Dia mengaku jawaban yang agak menarik adalah kebanyakan orang mengetahui seluruh kisah dari komik.
 
Dia mengatakan hobi membaca komik terjadi antara tahun 1960an hingga 1980an. Sesuai cerita Komponis Sunda Nano S, menurutnya, saat itu daya membaca orang Indonesia sangat tinggi. Pada tahun 1960an dan 1970an, penyewaan buku merupakan pekerjaan paling populer sebab orang lebih suka menyewa daripada membeli buku.
 
Berdasarkan informasi yang diperolehnya, RA Kosasih merupakan pencipta komik yang sangat populer. Kosasih menciptakan karya seri Ramayana dan Mahabaratha yang sangat original. Meskipun berdasarkan versi India, terdapat unsur wayang yang merupakan kreasinya, berbahasa Indonesia, dan gambar tokohnya terpengaruh wayang.

Komik tersebut tersebear di Pulau Jawa dan Bali sebagai bacaan keluarga maupun para dalang wayang. ‘’Makanya pada waktu itu komik dengan pertunjukan wayang mempunyai hubungan erat sekali,’’ kata wanita yang pernah tinggal di Bandung tahun 1988 sampai 1990 tersebut.
 
Dia berharap anak Indonesia jika ada kesempatan bisa membaca komik wayang agar mengetahui sumber cerita dalam pertunjukan. Sementara, saat ini buku komik yang ada di Indonesia kebanyakan komik dari luar negeri seperti dari Jepang dan jarang bertemu komik produksi dalam negeri. Padahal, dia menilai komik Indonesia mengenai wayang pernah sangat populer.

Sementara itu, pertunjukan wayang golek dengan dalang Apep Hudaya tersebut merupakan bagian dalam proyek penelitian yang bekerjasama dengan Yayasan Tikar Budaya mengenai hubungan seni pertunjukan tradisi dan kesenian massa.

Menurutnya, pengetahuan merupakan unsur yang terpenting untuk melestarikan seni pertunjukan bukan keuangan. Sehingga, meskipun ada dana tapi tidak ada yang memiliki kemampuan meneruskan maupun penonton, seni tidak bisa dilanjutkan.
 
Apep Hudaya menilai daya membaca komik wayang yang tinggi saat itu di antaranya karena televisi masih sedikit. Sementara, saat ini sebagian anak sekolah mengalami krisis budaya. Dia mengatakan peran pemerintah, masyarakat maupun orang tua harus menggiring dan mengenalkan sehingga minimal anak mengetahui.
 
Karena itu, dia memberi apresiasi terhadap Profesor Madoka yang melakukan penelitian dan tertarik terhadap kesenian wayang. Selain itu, dia menilai seniman juga harus berdialog dengan zamannya dengan tetap mengimbangi dan menyesuaikan supaya tidak ditinggalkan.
 
Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Provinsi Jawa Barat Nunung Sobari mengaku sangat mengapresiasi terhadap Profesor Madoka yang mencintai kesenian sunda. Menurutnya, pertunjukan ini adalak pertunjukan kedua yang digelar profesor asal Jepang tersebut. Karena itu, jika orang Jepang cinta dengan kesenian sunda seharusnya masyarakat harus bisa mencintai juga.

Dia mengatakan wayang yang masuk dalam intangible heritage oleh UNESCO merupakan penggambaran kehidupan sehari-hari. Selain itu, wayang sebagai budaya bisa melenturkan misspersepsi antar bangsa.

Sebagai upaya melestarikannya, pada 2013 Disbudpar bekerja sama dengan RRI menyiarkan wayang catur dengan dalang terpilih. Selain itu, bulan depan akan dilaksanakan festival wayang tingkat nasional.