Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Dukung SBY, Aktivis Muda NU Minta Said Aqil Dievaluasi

Jumat, 15 Maret 2013, 17:25 WIB
Komentar : 0
Agung Fatma Putra/Republika
Said Aqil Siradj

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) menyayangkan kunjungan 13 organisasi massa (ormas) Islam yang bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena pertemuan itu dilakukan saat SBY tengah menghadapi berbagai persoalan internal di Partai Demokrat. 

"Kunjungan tersebut terkesan sangat politis. Amat sangat disayangkan Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU memimpin kunjungan ke Istana dan mengeluarkan statement politik tentang dukungan terhadap Presiden SBY," kata aktivis muda NU, Gugus Joko Waskito, Jumat (15/3).  

Menurutnya, Said Aqil justru terkesan mempolitisasi NU. Manuver Said Aqil pun jelas-jelas dianggap melenceng jauh dari sejarah berdirinya NU. 

Ia menjelaskan, para pendiri, seperti Hasyim Asy'ari, A Wahab Hasbullah, dan Bisri Syansuri, ingin membawa NU sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan. Khususnya, mengurus persoalan sosial, ekonomi, pendidikan dan dakwah. 

"NU itu bukan organisasi politik yang dipakai sebagai alat dukung-mendukung kekuasaan," kata Direktur Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (Laksnu) tersebut.

Ia menilai, Said Aqil harusnya tidak melakukan dukungan itu. Melainkan harus mendengar dulu bagaimana dawuh para kyai. Termasuk juga jajaran Ra'is Syuriah, pengurus wilayah dan cabang NU.

"Jangan bermanuver politik sendiri dengan menggunakan PBNU sebagai alat politik. Said Aqil layak untuk di evaluasi. Kembalikan NU sesuai dengan khittah perjuangan," papar dia.

Redaktur : Mansyur Faqih
1.550 reads
Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:107))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Akbar Tandjung: Harapkan SBY Tak Hanya Undang Jenderal

PTDI Serahkan Enam Helikopter Pesanan TNI-AD

Kementan-Kemendag Sepakat Sederhanakan Izin Impor