Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Kemenag Menjawab JK: Banyak Peran Tak untuk Popularitas

Kamis, 07 Maret 2013, 23:13 WIB
Komentar : 0
Kementrianagama.go.id
Kementrian Agama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pernyataan Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) soal nyaris tiada peran dari Kementerian Agama dalam konflik-konflik agama di Indonesia ditanggapi tenang Kementerian Agama. Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar menganggap apa yang disampaikan JK, tidak sepenuhnya salah.

Nasaruddin melihat komentar JK berpijak dari pengalaman sangat banyak  banyak dalam menghadapi konflik bangsa.

Ia pun tak menampik data yang disampaikan JK soal konflik banyak benarnya. Meski, imbuh Nasaruddin, tidak berarti pemerintah, tidak memiliki peran apa pun dalam menyelesaikan konflik.

"Kita jangan kebakaran jenggot, tapi jadikan itu (komentar JK) sebagai evaluasi kita," kata Nasaruddin Umar pada Republika, Kamis (7/3).

Nasaruddin menambahkan, peran Kementerian Agama lebih pada membangun sistem di masyarakat agar kondisi kehidupan beragama di masyarakat stabil. Upaya itu, kata dia, juga membutuhkan keringat dan usaha.

Selain itu, peran ulama dan organisasi masyarakat Islam dalam konflik tidak lepas dari peran Kementerian Agama mengingat ulama dan ormas Islam ada di bawah bimbingan Kementerian Agama. "Jangan dinafikan peran stabilitas oleh Kementerian Agama," teganya

Nasaruddin mengakui masih banyak kekurangan di Kementerian yang saat ini dipimpin Suryadharma Ali tersebut, namun, menstabilkan kehidupan umat beragama juga bagian dari peran Kemenag.

Salah satunya keberadaan Kantor Urusan Agama (KUA) di tingkat terkecil Kementerian Agama, memberi layanan yang sangat penting bagi kelangsungan keluarga.

Kemenag, kata Nasaruddin juga menerjunkan 60 ribu penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk menjaga stabilitas kehidupan beragama. Dari 60 ribu penyuluh agama Islam itu, diwajibkan untuk membina 2 masjid dan dua majelis ta'lim.

Persoalannya, kerja-kerja sperti itu memang tidak menuntut popularitas pada masyarakat.

"Kelemahan mereka tidak menuntut popularitas, hanya ingin dicatat sebagai amal ibadah," tambah mantan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tersebut.

Reporter : Agus Raharjo
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
823 reads
Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...

Berita Lainnya

Jumhur: Sulit Melindungi TKI yang Menjadi PLRT