Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Diskusi Konflik Etnis, Agama dan Separatisme di Azerbaijan

Kamis, 28 Februari 2013, 21:26 WIB
Komentar : 0
Wilayah Azerbaijan berbatasan dengan Iran

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) menggelar diskusi bertajuk konflik etnis, agama dan separatisme di Azerbaijan dengan su kemanusiaan difokuskan pada tragedi pembantaian Khojaly.

Pembantaian Khojaly adalah pembantaian jumlah besar etnis Azerbaijan di kota Khojaly sejak 25 Februari 1992. Tragedi tersebut merenggut korban 106 perempuan dan lebih dari 80 anak-anak.

Hadir dalam diskusi yang juga didukung Kedutaan Besar Azerbaijan, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI, Said Agil Siradj, serta para duta besar dari Pakistan, Afganistan, Turki, dan Tunisia.

"Diskusi ini salah satu usaha kita memotivasi agar jangan terjadi lagi genosida di dunia. Secara psikologi, sosiologi, tentu berpengaruh pada para korban. Kita berharap bisa melakukan sesuatu dengan ini," ujar Ketua Program Vokasi UI, Muhammad Hikam di Perpustakaan UI, Depok, Kamis (28/2).

Hikam mengapresiasi kegiatan yang mengangkat isu kemanusiaan dan mengatasi konflik yang terjadi di dunia tersebut. "Atas nama kemanusiaan, seluruh dunia sebaiknya memerangi Genosida bersama-sama," tegasnya.

Sekretaris Universitas UI, Ketut Surajaya mengatakan, Indonesia beruntung bebas dari perang, meski seringkali mengalami konflik. Untuk mengatasi konflik di dunia, paparnya, PBB bisa berperan besar dalam mengurangi risiko konflik.

"Termasuk keamanan, perkembangan, rekonsiliasi, dan isu kemanusiaan. Bisa dibangun bersama-sama, untuk meringankan penyebab dan dampaknya. Kita harus membangun hubungan diplomatis secara humanis. Universitas tempat untuk menghargai satu sama lain. Kita bisa membantu berbicara dan konsentrasi pada isu itu, resolusi konflik," papar Ketut.

Reporter : Rusdy Nurdiansyah
Redaktur : Karta Raharja Ucu
674 reads
Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang hendaknya dia pergunakan pertama kali untuk dirinya dan keluarganya.((HR. Muslim))
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...

Berita Lainnya

Basarnas, 41 Tahun Mengabdi Bagi Kemanusiaan