Selasa, 15 Januari 2013, 20:33 WIB

Sektor Jasa Konstruksi, Sumber Kecelakaan Kerja

Rep: Fenny Melisa/ Red: Citra Listya Rini
Eric Ireng/Antara
Konstruksi, ilustrasi
Konstruksi, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat kecelakaan kerja dan berbagai ancaman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia masih cukup tinggi terutama pada sektor jasa konstruksi.

Berdasarkan laporan International Labor Organitation (ILO), setiap hari terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban fatal sebanyak 6.000 kasus. Sementara di Indonesia setiap 100 ribu tenaga kerja terdapat 20 orang fatal akibat kecelakaan kerja.

Tak hanya itu, menurut kalkulasi ILO, kerugian yang harus ditanggung akibat kecelakaan kerja di negara-negara berkembang juga tinggi, yakni mencapai empat persen dari GNP (gross national product).

Melihat hal tersebut, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan seluruh pihak harus mulai melakukan upaya dan kerja keras di tahun 2013 agar penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) di dalam setiap jenis kegiatan usaha dan berbagai kegiatan masyarakat agar dapat menekan angka kecelakaan kerja termasuk di sektor jasa konstruksi.

“Kita terus mendorong partisipasi para pimpinan perusahaan dan buruh/pekerja  untuk bersatu padu bersama pemerintah dan masyarakat luas agar terus berusaha mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan melaksanakan agar budaya K3 di seluruh level kehidupan masyarakat kita," kata Muhaimin di Jakarta, Selasa (15/1).

Menurut Muhaimin angka tingkat kerugian akibat kecelakaan kerja  memerlukan perhatian serius dari semua pihak, bukan hanya pemerintah. Penerapan budaya K3 harus diintegrasikan pada setiap jenjang manajemen perusahaan, sehingga dapat mengurangi kecelakaan kerja.

“Integrasi  penerapan budaya K3 di perusahaan dapat dilakukan melalui pendekatan prinsip-prinsip manajemen agar tidak hanya mengurangi kecelakaan kerja, tapi juga menekan tingkat keparahan dan pencapaian kecelakaan nihil,“ kata Muhaimin.

Pemerintah, lanjut Muhaimin, berharap kepada kalangan pengusaha dan tenaga kerja untuk lebih banyak mengambil inisiatif dalam meningkatkan kinerja K3 di lokasi pekerjaan.

Untuk itu, dia mengajak seluruh stakeholder dan seluruh masyarakat bergerak dan bertindak menjadikan program Saya Pilih Selamat menjadi satu upaya dalam mewujudkan budaya K3.