Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Walah, Mau Bikin Sambal Saja Repot, Ini Pemicunya

Jumat, 25 Januari 2013, 08:14 WIB
Komentar : 0
Cabai

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL---Harga cabai berbagai jenis di pasar tradisional Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam dua pekan terakhir masih tinggi, antara Rp14.000 sampai Rp26.000 per kilogram.
"Harganya masih tinggi, sejak harga cabai naik pada awal bulan (Januari) sampai pertengahan bulan, sampai sekarang belum turun. Dalam dua pekan ini harganya masih bertahan," kata pedagang sayuran di pasar tradisional Bantul, Sujinah, Jumat.

Ia menyebutkan seperti cabai merah keriting harganya Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, cabai merah biasa Rp17.000 per kilogram, dan cabai rawit merah masih Rp25.000 sampai Rp26.000 per kilogram.

Menurut dia, harga sekarang ini, tak berubah sejak dua pekan terakhir, sebelumnya masih Rp12.000 per kilogram untuk cabai merah keriting, cabai merah biasa Rp15.000 per kg, dan cabai rawit merah Rp22.000 per kg.

"Pada awal Januari kan cuaca tidak baik, sehingga harganya naik terus, apalagi pasokan sedikit dan tidak lancar akibat tanaman cabai rusak terendam banjir. Jualannya jadi sulit juga," kata dia, yang biasa mendapat pasokan dari petani di daerah selatan.

Penjual bumbu dapur di Pasar Bantul lainnya, Parjinah mengatakan pasokan komoditas yang masih terganggu karena cuaca buruk menyebabkan harganya masih mahal.
"Kenaikan harga terjadi sejak awal Januari, dan pekan ini belum normal," katanya.

Menurut dia, akibat kondisi alam, maka sayuran dan bumbu dapur sulit diperoleh, sehingga semuanya menjadi mahal. Kami hanya bisa pasrah" katanya.
Ia menyebutkan bumbu dapur seperti bawang putih yang tiga pekan lalu harganya masih Rp24.000 per kg, sampai saat ini bertahan pada harga Rp28.000 per kg

Selain itu, kata dia, harga cabai merah keriting yang tiga pekan lalu masih Rp12.000 per kg, sudah dua pekan terakhir harga terpatok Rp15.000 per kg. Sedangkan harga cabai merah bertahan pada Rp17.000 per kg.

Sementara itu, Kasi Pengembangan Pengawasan Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Subaryoto mengatakan tingginya harga bumbu dapur karena selama musim hujan petani Bantul tidak panen.
"Oleh karena itu, komoditas tersebut harus didatangkan dari luar daerah, seperti Wonosobo, Temanggung, dan Brebes (Jawa Tengah). Kalau di sana kan lahannya di atas (di pegunungan), sehingga aman dari banjir, dan masih bisa berproduksi, berbeda dengan di Bantul," katanya.

Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : Antara
1.058 reads
Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang hendaknya dia pergunakan pertama kali untuk dirinya dan keluarganya.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...