Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

'Orang Tua Sibuk, Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual'

Selasa, 15 Januari 2013, 21:04 WIB
Komentar : 0
pelecehan seksual (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Sosiolog Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Badaruddin menuturkan salah satu penyebab anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual karena kurangnya pengawasan dari orang tua.

Sebab, orang tua juga memiliki tanggung jawab yang cukup besar terhadap keselamatan anaknya, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

"Orang tua sering dijadikan sebagai benteng dalam melindungi anak, dan dimana pun mereka (anak) berada. Tanggung jawab sosial dan moral tersebut merupakan tugas dari orang tua dan harus dilaksanakan," ucap Badaruddin di Medan, Selasa (15/1).

Terkadang orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor atau bisnis, dan lupa mengawasi anak yang masih kecil di rumah, kata Badaruddin. Sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu juga dikarenakan sang anak mungkin karena dijebak orang lain atau terpengaruh bujuk rayu, sehingga terjadilah pelecehan terhadap korban.

"Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan terhadap anak kecil itu harus tetap diproses secara hukum. Bila perlu pelakunya orang dewasa tersebut dihukum berat, sehingga dapat membuat efek jera dan tidak mengulangi lagi perbuatan salah," ucap Badaruddin.

Data yang diperoleh dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) 2012, laporan kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan. Selama 2012, Komnas Anak telah menerima sebanyak 2.637 kasus kekerasan anak dan 62 persen merupakan seksual.

Redaktur : Karta Raharja Ucu
Sumber : Antara
1.433 reads
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu((QS. An Nisa 4 : 29).)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda