Jumat, 25 Jumadil Akhir 1435 / 25 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kerajinan dari Kulit Telur

Minggu, 06 Januari 2013, 17:03 WIB
Komentar : 1
republika/prayogi
Telur dan kulitnya bisa dimanfaatkan.
Telur dan kulitnya bisa dimanfaatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Tak ada yang mengira lukisan Presiden SBY dan Tari Barong yang dibuat Agio Tri Wibowo terbuat dari kulit telur. Kita harus meraba permukaan kanvas baru yakin bahwa karyanya bukan lukisan biasa.

Agio memulai kerajinan ini sejak 2009. Sejak dulu dia memang suka menggambar. Dari hobinya ini lalu  dia teruskan menjadi sebuah usaha hingga sekarang.

Bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat satu lukisan cukup banyak. Semisal kanvas (sebagai media gambar dasar), cat pewarna jenis plitur, amplas kayu, alat lukis seperti kuas, lem kayu, dan pernis (pelapis anti gores).

Kulit telur dia peroleh dari penjual nasi goreng langganannya. Setiap hari, penjual nasi goreng tersebut datang mengantar kulit telur bekas jualannya ke rumah dan Agio membayar sekitar Rp 10 ribu. 

Mula-mula dia menggambar desain lukisan di kanvas putih. Kemudian, gambar tadi ditempeli kulit telur secara merata. Selanjutnya, gambar dilapis sedikit semen di beberapa bagian tertentu. Setelah diberi warna, agar menimbulkan efek tiga dimensi, gambarnya kemudian diamplas.

Untuk membuat satu lukisan karakter atau wajah berukuran 50 x 60 cm, Agio membutuhkan waktu lima hari. Dia memasang harga Rp 500 ribu untuk setiap wajah yang ada di lukisannya. ''Jadi kalau berdua, tinggal kalikan aja'', ujarnya. 

Gambar dengan gerabah kecil dan lukisan (bukan karakter atau wajah dipasangi harga mulai dari Rp 20 ribu hingga jutaan rupiah. Lukisannya paling banyak diminati oleh kalangan pecinta seni, wisatawan, dan ibu-ibu rumah tangga.

Dia mengaku, semakin kecil ukuran lukisan, semakin rumit pengerjaannya. Tapi kadangkala, orang menyangka sebaliknya. Lukisan yang paling besar yang pernah dibuatnya berukuran dua kali tiga meter dan paling kecil berukuran 40 x 30 cm.

Agio yang kini bergabung di komunitas Sunda Kelapa Heritage (SKH), mengaku belum ada kesempatan untuk mengekspor karyanya. Maka ke depannya, dia berharap jangkauan pasarnya bisa semakin luas. Selain itu, dia juga ingin mengajarkan ke masyarakat luas untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis.

Sebelum bergabung di SKH, dia memasarkan produknya melalui media sosial, internet, dan dari mulut ke mulut. Tapi yang penjualan yang paling efektif saat pameran. Hasil karya Agio untuk sementara bisa dilihat di Sekretariat Sunda Kelapa Heritage, di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Reporter : Riana Dwi Resky
Redaktur : Dewi Mardiani
Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah(HR. Tirmidzi)
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jumlah Pengunjung Meningkat, Ancol Terus Berbenah
JAKARTA -- Sebagian besar warga Jakarta kebanyakan habiskan libur panjang keluar kota. Meski begitu, wisata pantai Ibu Kota tak kehilangan pesonannya. Seperti pantai di...