Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Awas, Ada Rentenir Berkedok Koperasi

Rabu, 26 Desember 2012, 16:53 WIB
Komentar : 0
www.inilahjabar.com
Rentenir berlabel koperasi kini marak terjadi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,SOREANG--Kehadirian rentenir berkedok koperasi meresahkan masyarakat.

Rentenir tersebut berpura-pura menjadi koperasi padahal memberikan bunga yang sangat tinggi. Sehingga masyarakat yang meminjam uang di koperasi tersebut menjadi terjerat dan sulit membayar hutang.

Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskoperindag)  dan Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Bandung akan menindak mereka.

Rentenirberkedok koperasi dinilai  mencederai prinsip-prinsip koperasi.

Ketua Advokasi Dekopinda Kabupaten Bandung, Atang menuturkan, berdasarkan hasil Rapat Kerja Dekopinda Kabupaten Bandung, kegiatan rentenir berkedok koperasi akan dibekukan.

Namun, ujar Atang,  sebelum dibekukan akan dilakukan pembinaan. Jika tetap melakukan kegiatan rentenir, maka akan dilaporkan dan bisa dicabut izin koperasinya.

"Berdasarkan hasil rapat, renternir yang berkedok koperasi akan dibina langsung oleh Diskoperindag dan Dekopinda,"katanya, Rabu (26/12).

Atang mengharapkan dengan adanya pembinaan tersebut renternir berkedok koperasi dapat diminimalisir.

Menurut Atang, saat ini koperasi  yang ada di Kabupaten Bandung sebanyak 1.515 koperasi.

Namun yang tercatat dalam pembinaan Diskoperindag sebanyak 745 dan dibina Dekopinda 320 koperasi.

Atang menduga di Kabupaten Bandung terdapat sekitar 50-an rentenir yang berkedok koperasi. Lokasinya menyebar di setiap kecamatan. Kegiatannya  tidak kelihatan.

"Selama ini data riil belum kami dapat, namun disinyalir setiap kecamatan ada tiga sampai lima renternir yang berkedok koperasi," jelas Atang.


Reporter : Ghalih Huriarto
Redaktur : Dyah Ratna Meta Novi
997 reads
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)".((HR. Ashabussunnah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda