Rabu, 28 Zulhijjah 1435 / 22 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Bahasa Ibu Harus Dipertahankan

Kamis, 13 Desember 2012, 21:58 WIB
Komentar : 1
Antara/Irsan Mulyadi
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Revitalisasi bahasa mutlak diperlukan sebagai bagian pemenuhan hak asasi anak untuk belajar bahasa ibunya.

Demikian ditegaskan Ahli dialektologi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Multamia Lauder.

"Jangan menunggu sampai terlambat. Kita harus bergerak sekarang," kata  perempuan yang merupakan guru besar ini, Kamis (13/12).

Contoh kasus di Pulau Buru, Maluku, bahasa Kayeli hanya tinggal dikuasai empat orang berusia di atas 60 tahun. Keempatnya terakhir kali menggunakan bahasa itu 30 tahun lalu.

Masih di tempat yang sama, nasib bahasa Hukumima lebih menyedihkan lagi. Penuturnya hanya seorang nenek dengan gigi ompong berusia 80 tahun. Dan ia tidak lagi menggunakan bahasa itu sejak Perang Dunia II. Ia pun sudah lupa dengan bahasa itu.

Dalam penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sejauh ini para peneliti yang dibantu peneliti dari Universitas Indonesia dan Atmajaya berhasil mengumpulkan sekitar 1.000 kosa kata.

Tidak banyak memang. Apalagi jumlah penuturnya juga di bawah seribu. Hal itu disebabkan tidak ada catatan mengenai bahasa minoritas tersebut. Bahasa daerah biasanya dituturkan dan tidak dituangkan dalam tulisan.

Dokumentasi bahasa ini perlu disimpan dalam format video dan audio. Mereka yang ingin mempelajari bahasa juga menjadi tahu bagaimana intonasi yang benar. Sayangnya, metode ini meski sangat penting membutuhkan biaya yang banyak.

Keahlian juga diperlukan untuk menjaga rekaman agar tidak rusak. Perlu juga diperhitungkan adanya standar agar rekaman dapat terus terbaca dengan sistem yang dipakai. Kosa kata yang dibukukan para peneiiti memang belum lengkap.

Namun ,mereka optimis pengembangan ejaan bahasa minoritas dapat membantu penduduk setempat menulis sejarah mereka, menu masakan, adat, cerita rakyat dan lainnya dalam bahasa etnis.

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) LIPI, Endang Turmudi,  berharap generasi muda tidak malu menggunakan bahasa daerah yang merupakan identitas mereka.

“Sebetulnya, sudah ada kesadaran dari pemerintah untuk melestarikan bahasa daerah. Salah satu caranya adalah mengintegrasikannya ke pelajaran sekolah melalui muatan lokal di daerah masing-masing,” kata Endang.

Cara ini bukannya tanpa masalah. Mencari guru yang paham benar dengan bahasa etnis minoritas sangat sulit.




Reporter : Ani Nursalikah
Redaktur : Chairul Akhmad
Barang siapa yang memerhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. ((HR Bukhari-Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Sekilas Cerita Tugas Seorang Ketua MPR RI
 JAKARTA -- Dalam pembukaan Indonesia International Halal Expo (INDHEX) 2014, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan sempat sedikit bercerita tugas ketua MPR...