Selasa, 16 Oktober 2012, 19:50 WIB

Pukuli Wartawan, Reformasi TNI Dinilai Belum Berakhir

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Karta Raharja Ucu
Antara
  Pesawat Hawk 200 Single Seater (Kursi Tunggal) milik TNI AU jatuh sekitar 3 km dari Bandara Sultan Syarief Kasim II Pekanbaru, Selasa (16/12).
Pesawat Hawk 200 Single Seater (Kursi Tunggal) milik TNI AU jatuh sekitar 3 km dari Bandara Sultan Syarief Kasim II Pekanbaru, Selasa (16/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Reformasi kultural di lingkungan TNI dinilai belum berakhir. Penganiayaan terhadap wartawan yang meliput di sekitar area jatuhnya pesawat Hawk 200 milik Skuadron Udara 12 Black Panther di Desa Pasir Putih, Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (16/10), menjadi cerminannya.

PDI Perjuangan menyesalkan terjadinya penganiayaan yang dinilai sebagai ancaman terhadap demokrasi karena menghambat penyaluran informasi kepada publik.

"Saya menyesalkan tindakan kekerasan oknum aparat TNI AU yang menghalang-halangi tugas jurnalis meliput berita, apalagi dengan cara-cara yang menggunakan kekerasan," jelas Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Achmad Basarah, di Jakarta, Selasa (16/10).

Peristiwa tersebut membuktikan reformasi kultural di lingkungan TNI yang acap kali menggunakan kekerasan seperti terjadi masa Orde Baru dulu belum berakhir. "Ini menjadi keprihatinan kita," jelasnya.