Selasa, 7 Zulqaidah 1435 / 02 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Tarif Listrik Naik, Siap-siap Kencangkan Ikat Pinggang karena...

Selasa, 04 September 2012, 03:08 WIB
Komentar : 3
tarif dasar listrik (ilustrasi)
tarif dasar listrik (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang dicanangkan pemerintah sebesar 15 persen pada 2013 akan meningkatkan harga produk makanan dan minuman sebesar 4 persen.

"Jika pemerintah menaikkan TDL pada 2013, akan berimbas pada meningkatnya harga produk makanan dan minuman. Hal tersebut akan memberatkan konsumen dan membuat daya beli masyarakat sedikit menurun," kata Direktur Industri Makanan Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Faiz Ahmad.

Biaya produksi makanan dan minuman pasca kenaikan TDL, menurut Faiz, hanya meningkat sedikit. "Untuk biaya produksi setelah tarif TDL meningkat 15 persen diperkirakan melonjak 2 persen," ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, mengatakan untuk industri makanan dan minuman, komponen energi termasuk listrik merupakan 8 persen hingga 10 persen dari total biaya produksi.

"Dengan adanya kenaikan TDL, secara otomatis akan menyebabkan kenaikan pada harga pokok. Selain itu, 'supplier-supplier' juga akan menaikkan harga, seperti 'supplier' kemasan dan 'supplier' bahan tambahan pangan dan ujung-ujungnya, konsumen yang akan menanggung harga yang sangat tinggi," katanya.

Adhi menambahkan, kenaikan TDL merupakan suatu hal yang anomali. Satu sisi pemerintah meminta setoran pajak dari industri ditingkatkan, namun daya saing dilemahkan dengan kenaikan tarif listrik.

"Kenaikan TDL 15 persen menyebabkan harga listrik di dalam negeri lebih mahal dari China. Pemerintah harus berpikir ulang untuk menaikkan listrik pada 2013," tegasnya. 

Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : Antara
Sesungguhnya Allah SWT mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan karena keliru, karena lupa, dan karena dipaksa (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Normalisasi Kebijakan Fiskal AS dan Subsidi BBM Indonesia
Analis dan pelaku pasar di Amerika menunggu langkah pemerintah selanjutnya dalam menangani subsidi BBM. Investor sedang mencari kesempatan menanamkan modal, di saat bursa...