Rabu , 04 October 2017, 15:55 WIB

Merah Putih Memanggil Angkat Heroisme TNI

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Indira Rezkisari
ist
Prisia Nasution
Prisia Nasution

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cerita film Merah Putih Memanggil bermula ketika terjadi pembajakan kapal pesiar berbendera Indonesia oleh sebuah kelompok teroris internasional yang diketuai oleh Diego (Aryo Wahab). Ia memiliki kaki tangan bernama Lopez (Restu Sinaga).

Dalam insiden pembajakan tersebut, satu awal kapal ditembak mati karena melakukan perlawanan. Sementara empat awak kapal termasuk kapten kapal, tiga warga negara Prancis, satu warga negara Kanada, dan satu warga negara Korea Selatan ikut dibawa dan disandera oleh teroris keluar Indonesia.

Enam warga negara Indonesia juga ikut disandera dan ketakutan saat bertemu dengan Diego dan Lopez. Mereka dikurung dalam penjara yang terbuat dari kayu di hutan belantara Valdosta, Tongo sambil menunggu tebusan dari Pemerintah Indonesia.

Negara tetangga yang tak kunjung mampu menumbangkan kumpulan teroris ini, kemudian memberi akses pada Pemerintah Indonesia untuk mengirimkan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka harus menyelamatkan sandera dalam waktu 48 jam.

Kapten Nurmantyo (Maruli Tampubolon) yang mengemban tugas ini segera membuat rencana operasi gabungan yang melibatkan TNI AD, TNI AL dan TNIAU. Demi menunaikan tugasnya, Kapten Nurmantyo dan tentara yang lainnya juga harus meninggalkan keluarganya.

Pasukan penyelamat tak hanya didominasi oleh tentara laki-laki. TNI menurunkan dr Kartini (Prisia Nasution) sebagai dokter yang merawat para sandera selama proses penyelamatan.

Pemerintah Indonesia melalui TNI lalu mengirimkan satu tim batalyon anti teror Kopasus yang diterjunkan di malam hari secara free fall. Pasukan ini dibantu pesawat tempur TNI AU, kapal perang TNI AL, Kopaska, dan batalyon Marinir yang didaratkan.

Pertempuran melawan teroris ini tak bisa terelakkan. Korban dari pihak TNI maupun teroris terus berjatuhan selama perjuangan menyelamatkan sandera.

Sutradara Merah Putih Memanggil, Mirwan Suwarso mengatakan ada 250 orang yang terlibat di dalam film ini. Jumlah tersebut termasuk kru film, artis, dan prajurit-prajurit TNI.

Menariknya, Mirwan menuturkan tidak ada satu pun pemeran film yang menggunakan stuntman (pemeran pengganti) saat menjalani proses syuting. Selama syuting pun, mereka menggunakan alat-alat perang asli milik TNI seperti pesawat tempur Sukhoi SU-30, Kapal Selam Nagapasa, helikopter, dan KRI Diponegoro.

"Itu semua prajuritnya main sendiri. Artisnya juga nggak ada stuntman. Kayak Prisia (pemeran dr Kartini) turun sendiri dari tebing," ujar Mirwan usai acara screening film Merah Putih Memanggil, Selasa (5/10) malam.

Mirwan berharap dengan film ini, masyarakat dapat mengenal prajurit-prajurit TNI. Terutama kedisiplinan dan dedikasi tinggi saat menjalankan tugas.

"Nggak mikirin diri sendiri, nggak mikirin keluarga. Kalau sudah tugas ya tugas. Harapan saya masyarakat bisa melihat dan lebih mengapresiasi prajurit-prajurit yang mendedikasikan dirinya untuk mengabdi pada negara," katanya.

Merah Putih Memanggil merupakan produksi bersama Gabungan Puspen TNI dan TB Silalahi Pictures. Film ini akan mulai diputar serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 5 Oktober 2017.