Friday, 7 Muharram 1436 / 31 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

PBNU Kecewa Protokoler Istana Presiden, Ada Apa?

Tuesday, 17 July 2012, 19:13 WIB
Komentar : 3
Antara/Jessica Wuysang
Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj (kiri).
Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj (kiri).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdatul Ulama kecewa kepada protokoler kepresidenan yang tidak memberikan kesempatan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk menyampaikan sambutan di acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin (16/7) malam.

"Acara tadi malam lancar, bagus, dan hebat. Cuma kurangnya tidak ada sambutan Ketua Umum PBNU, dan itu menyalahi tradisi NU," kata Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, sudah menjadi tradisi di NU bahwa Ketua Umum PBNU selalu memberikan sambutan di dalam acara resmi berskala nasional yang digelar badan otonom di jajaran NU, termasuk GP Ansor.

"Ketua umum hadir di acara Banom NU yang bersifat nasional dan beliau hadir di situ, kenapa tidak diberi kesempatan untuk memberikan sambutan," katanya.

Setelah ditelusuri ternyata tidak disediakannya waktu bagi Ketua Umum PBNU untuk menyampaikan sambutan karena kebijakan pihak protokoler istana.

"Saya sudah mengecek ke teman-teman, ya memang mereka menyatakan semestinya (pidato Ketua Umum PBNU) harus ada, tapi ini kehendak dari protokol istana," kata Slamet.

Acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin malam, memang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, selain dihadiri pula oleh pengurus PBNU, PWNU, PAC, serta puluhan ribu Banser.

Dengan adanya "kecelakaan tradisi" ini, Slamet berharap ke depan pihak protokoler istana bisa lebih arif dengan menghormati tradisi NU serta standar operasional prosedur (SOP) di suatu organisasi, sehingga kehadiran presiden tidak mengurangi kearifan lokal serta tradisi yang ada.

"Harapan saya ke depan, sambutan atau amanat presiden jangan mengurangi standar yang biasa dilakukan di lingkungan NU. Presiden hadir di acara Banom NU atau di lingkungan NU adalah bagian dari keberadaan beliau di tengah-tengah rakyat, tapi jangan sampai keberadaan presiden kemudian mengurangi SOP dan tradisi di lingkungan NU, di mana Ketua Umum PBNU pasti memberikan sambutan," katanya.

Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : Antara
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
AS dan Dunia Islam Jalin Kerja Sama Lewat Keberagaman
JAKARTA -- Menjalin sebuah kerjasama dengan dunia islam menjadi tugas penting Shaarik H Zhafar sebagai utusan khusus Menteri luar negeri Amerika Serikat untuk...