Sunday, 15 July 2012, 20:32 WIB

Pemerintah Diminta Lakukan Manajemen Stok untuk Kendalikan Harga

Rep: Dwi Murdaningsih / Red: Djibril Muhammad
Aditya Pradana Putra/Republika
Drajad Wibowo
Drajad Wibowo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kenaikan harga menjelang lebaran lebih disebabkan karena tradisi. Pengamat ekonomi INDEF Drajat Hari Wibowo menuturkan Indonesia merupakan negara yang cukup aneh. Pasalnya, di bulan puasa justru terjadi kenaikan permintaan produk makanan. Padahal, semestinya di bulan puasa permintaan makanan lebih terkendali.

"Aneh, tapi sudah jadi hukum ekonomi permintaan naik harga juga naik," ujar Drajat saat dihubungi, Ahad (15/7).

Ia mengatakan rencana pasar murah yang dilakukan pemerintah bukan solusi untuk mengatasi kenaikan harga. Menurutnya, harga yang stabil hanya bisa didapatkan jika pemerintah memiliki manajemen stok yang baik. Artinya, jika harga sudah mulai naik di pasaran, pemerintah menambah stok agar harga tetap bisa dikendalikan.

Namun, kata Drajat manajemen stok kini tidak lagi menjadi prioritas. Selain memerlukan biaya yang cukup tinggi manajemen stok cukup rawan penyelewengan. Ia mencontohkan ketika bulog mengontrol harga sembako seperti di era orde baru, hal itu menyebabkan potensi korupsi dan monopoli yang terjadi cukup besar.

Meskipun pemerintah berulang kali meyakinkan stok persediaan pangan cukup selama puasa dan lebaran, menurut dia hal itu tidak menjamin tidak adanya kenaikan harga pangan. Ia mengatakan tidak adanya stok persediaan bahan pokok seperti gula di gudang milik pemerintah membuat peran pemerintah mengendalikan harga menjadi kecil.

"Yang dikatakan stok cukup itu hanya pencatatan di pedagang. Sementara seharusnya yang disebut stok cukup itu seharusnya stok yang terdapat di gudang pemerintah," ujar dia.