Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pakar: Ada Pihak Yang Ingin Beda Soal Ramadhan

Jumat, 06 Juli 2012, 14:14 WIB
Komentar : 30
Prof Dr Thomas Djamaluddin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Potensi perbedaan dimulainya Ramadhan 1433 Hijriah tetap terjadi di tahun ini. Menurut Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama (Kemenag) yang juga merupakan Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, potensi ini terjadi karena ada pihak yang ingin berbeda.

"Ramadhan akan beda karena ada yang ingin beda. Secara astronomi, keputusan hisab Muhammadiyah keliru, karena menggunakan konsep geosentrik," kata Djamaluddin melalui pesan singkatnya, Jumat (6/7).

Dikatakannya, Muhammadiyah mementingkan hak untuk berbeda seperti yang dijamin dalam Pasal 29 UUD 1945. Namun, kata dia, hal tersebut justru mengabaikan kewajiban untuk bersatu. "Kewajiban bersatu itu merupakan perintah Allah SWT pada Alquran Surat Ali Imran (3): 103 yang berbunyi: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (tafarruq)”," tegasnya.

Anggota Tim Tafsir Ilmi Kemenang ini juga mengatakan dalam blog-nya, dulu Muhammadiyah gencar dengan gerakan pemberantasan TBC (Takhyul, Bid’ah, dan khurafat. Namun pembinaan Muhammadiyah atas dasar taqlid tentang hisab hakiki wujudul hilal telah melemahkan sikap kritis internalnya akan bid’ah yang paling nyata yang berdampak pada perbedaan penentuan waktu ibadah Ramadhan. Hal itu, kata dia, terjadi saat mengawalinya maupun mengakhirinya.

Fokus kritiknya, kata Djamaluddin, soal penentuan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan yang terkait dengan pelaksanaan ibadah, mestinya harus atas dasar dalil-dalil syar’i. Namun, dalil syar’i yang diajukan untuk mendasari wujudul hilal hanyalah Alquran Surat Yasin (36): 40. Ditambahkannya, hal itu diperparah dengan tafsir astronomis yang keliru dan mengabaikan sekian banyak dalil rukyat yang sebenarnya bisa menjadi dasar untuk mendukung kriteria hisab.

Dalam ayat itu disebutkan, "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."

Dalil rukyat ketika ditafsirkan secara teknis untuk diterapkan dalam hisab akan berwujud kriteria imkan rukyat hilal (kemungkinan rukyat hilal). Dalam bahasa teknis astronomis disebut kriteria visibilitas hilal. Wujudul hilal mengabaikan rukyat, sehingga tidak punya pijakan dalil qath’i (tegas) yang mendukungnya. "Dengan demikian wujudul hilal menjadi bid’ah yang nyata. Padahal hisab tidak harus wujudul hilal, bisa menggunakan kriteria imkan rukyat yang merupakan tafsir ilmi astronomis atas dalil-dalil rukyat," kata Djamaluddin.


Redaktur : Dewi Mardiani
2.889 reads
'Ketahuilah, sesungguhnya bahwa malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung.(HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  bukan orang pintar Selasa, 31 Juli 2012, 04:10
Pengoment yg menghujat jg tdk lbh baik dr yg dihujat, sbg rakyat ada kejiban taat pd pemrintah. Jk orms yg disbt merasa sbg rakyat ya taatilah pemerinth. Kan pemerintah jg punya ahli
  istigfar Jumat, 27 Juli 2012, 11:10
kelihatan orang indo sukanya yg instan. Cmn lewat perhitungan udah 2 derajat selesai, ga tau kebenaranya. dikoreksi malah nyolot, keras kepala, malah menghujat.
  ozi Minggu, 15 Juli 2012, 16:57
Ini orang dari dulu selalu menyudutkan Muhammadiyah ...
Tendensius banget, kalau beda ya udah emang anda dirugikan...
  ab Selasa, 10 Juli 2012, 11:37
ni orang membuat adu domba
  Didit Selasa, 10 Juli 2012, 10:48
Masih ingat Idul Fitri tahun kemarin prov? ternyata, hitungan pemerintah RI yang keliru besar tp tidak mau mengakui. Pada tgl 31 Agustus 2011 hanya 4 negara (termasuk Indonesia) yang merayakan Idul Fitri. KOplak banget ya DEPAG... korupsi Al Qur'an melulu sih...
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda