Sunday, 1 Safar 1436 / 23 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Genjot Produksi Minyak, Irak Ajak Perusahaan Migas RI

Monday, 25 June 2012, 11:59 WIB
Komentar : 0
AP
Kilang minyak Irak di Basrah.
Kilang minyak Irak di Basrah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Deputi Perdana Menteri untuk Energi Irak Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani mengundang perusahaan minyak dan gas Indonesia untuk mengikuti tender pembangunan di Irak yang kini sedang dilaksanakan secara besar-besaran. "Peluang di bidang energi sangat besar karena Irak sedang berusaha meningkatkan produksi minyaknya," kata juru bicara Wapres Yopie Hidayat ketika menjelaskan pertemuan Wapres Boediono dengan Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin.

Selain itu, kata Yopie, Irak juga sedang membangun kompleks petroleum dan gas. Di luar proyek energi, lanjutnya, Irak juga sedang banyak membangun infrastruktur seperti jalan, pelabuhan udara dan pelabuhan. "Perlu partisipasi perusahaan dari luar negeri," katanya.

Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani, kata Yopie, menjelaskan bahwa sudah banyak perusahaan luar negeri yang masuk ke Irak, seperti dari China, Eropa, Korea dan AS. "Setiap minggu pasti ada tender yang dilakukan secara terbuka," kata Yopie.
Deputi Perdana Menteri Irak itu mengatakan investor Indonesia ditunggu untuk berpartisipasi karena seharusnya perusahaan Indonesia cukup mampu bersaing.

Selain itu Irak juga mengundang tenaga-tenaga profesional Indonesia untuk bekerja di Irak.? Al-Shahristani mengatakan tenaga Indonesia tidak perlu takut ke Irak karena kondisinya sudah aman.
Yopie mengatakan pada Selasa (26/6) akan ada penandatanganan nota kesepahaman antara Irak dengan Indonesia dalam masalah migas. Saat ini, katanya, sudah ada perusahaan Indonesia seperti Pertamina, yang masuk ke Irak. Namun jumlahnya masih sangat sedikit.

Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : antara
Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Menanti Janji Jokowi Soal Perdamaian Palestina
 JAKARTA -- Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengatakan umat muslim di Indonesia bisa ikut mendesak pemerintah agar lebih...