Rabu, 24 Syawwal 1435 / 20 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Inilah Profil Menteri Kesehatan Baru

Rabu, 13 Juni 2012, 19:28 WIB
Komentar : 7
Teguh Indra/Republika
Nafsih Mboi sebagai Menteri Kesehatan
Nafsih Mboi sebagai Menteri Kesehatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Akhirnya jabatan menteri kesehatan kembali terisi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH sebagai menteri kesehatan 2012 - 2014 menggantikan almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih, Rabu (13/6).

Nafsiah Mboi adalah dokter spesialis anak yang juga ahli kesehatan masyarakat. Ia mengenyam pendidikan mulai di Indonesia, Eropa dan Amerika.

Nafsiah memiliki pengalaman karir panjang. Ia menjadi pegawai negeri di Departemen Kesehatan sejak tahun 1964 hingga 1998, kemudian anggota DPR (1992-1997), setelah itu pegawai Perserikatan Bangsa-bangsa (1999-2002), tepatnya  Direktur Department of Gender and Women's Health di World Health Organization Pusat di Jenewa, Swiss.

Nafsiah lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan pada 14 Juli 1940. Ia mengambil spesialisasi dokter anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1971. Sedangkan gelar Master of Public Health diperoleh dari Prince Leopold Institute of Tropical Medicine, Antwerp, Belgia pada 1990.

Karena dedikasinya pada dunia kesehatan ia dianugerahi penghargaan dari dalam dan luar negeri. Beberapa penghargaan yang diperolehnya antara lain Ramon Magsaysay Foundation Award for Government Service dari Ramon Magsaysay Foundation, Manila, Filipina (1986), Satya Lencana Bhakti Sosial dari Presiden Republik Indonesia (1989), Fellow of the Australia-Indonesia Institute (1993), Asia HRD Congress (2008) dan Soetomo Tjokronogoro yang diberikan oleh PB-IDI (2009).

Nafsiah menikah dengan Brigjen purn Ben Mboi yang juga mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka dikaruniai tiga orang putra dan lima cucu. I

Sejak menjadi pegawai negeri pada 1964 di Departemen Kesehatan, berbagai tugas pernah diembanny. Ia pernah menjadi Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores (1964 -1968), Kepala Seksi Perijinan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT, Kupang (1979 -1980), Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT, Kupang (1980 - 1985).

Selain jabatan karir, Nafsiah pernah menjadi anggota DPR/MPR RI (1992 ?1997), Ketua Komite PBB untuk Hak-Hak Anak (1997 - 1999), Direktur Department of Gender and Women?s Health, WHO Switzerland (1999 -?2002) dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006 - sekarang).  Lebih dari 70 karya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan. Sebanyak 20 di antaranya adalah makalah dan artikel. 

Wanita itu juga dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, ia juga dikenal sebagai aktivis bidang keluarga berencana dan selanjutnya mendedikasikan diri bagi upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

Komitmennya dalam antidiskriminasi dan kesetaraan di masyarakat mengarahkan Nafsiah menjadi aktivis hak-hak azasi manusia. Ia menjadi salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Selama ini ia terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menitikberatkan pada pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender dan hak-hak anak. Ia terjun ke semua area tersebut saat memimpin PKK, BK3S dan organisasi lain selama 10 tahun bekerja di NTT (1978-1988) saat suaminya menjabat sebagai gubernur.

Reporter : Ani Nursalikah
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar