Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Boediono: Pancasila tak Beri Ruang Egoisme Sempit

Jumat, 01 Juni 2012, 14:08 WIB
Komentar : 0
BANDA ACEH, 13/4 - FUNGSIKAN EWS. Wapres Boediono memberikan arahan pada pertemuan dengan muspida Aceh di Banda Aceh, Jumat (13/4). Wapres meminta pihak terkait memfungsikan Early Warning System (EWS) tsunami di Aceh, menata kembali jalur evakuasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Risiko terbesar terhadap keberlanjutan eksistensi bangsa adalah tumbuhnya egoisme sempit. Setiap bentuk egoisme di kehidupan masyarakat akan menimbulkan konflik yang mendatangkan korban harta dan jiwa. Egoisme itulah yang harus ditolak, baik agama, bangsa, etnis, suku, kekuasaan, maupun harta.
 
"Pengalaman sejarah, dan juga kebutuhan kita untuk mengawal perjalanan bangsa ke depan, mengharuskan kita untuk melawan egoisme," kata Wapres Boediono dalam pidato kebangsaan memperingati pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Nusantara IV, Kompleks MPR/DPR, Jumat (1/6).
 
Boediono mengutip kata-kata Martin Luther King Jr, seorang pejuang hak asasi manusia (HAM) di Amerika Serikat. "We must learn to live together as brothers or perish together as fools.'  Kita harus belajar hidup bersama sebagai saudara, atau kita semua akan binasa sebagai orang-orang bodoh," kata Boediono.
 
Para pendiri Republik terutama Bung Karno, kata Boediono, telah menyumbangkan sebuah fondasi kebangsaan, yakni Pancasila. Fondasi itu memberikan pijakan kuat bagi kita yang berbeda-beda latar belakang untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa.
 
Fondasi itu sebenarnya merupakan penopang eksistensi bangsa. Indonesia tak selamanya dapat menghindarkan dampak buruk krisis politik dan ekonomi dunia ke dalam kehidupan, terutama rakyat bawah. "Tetapi saya yakin, apabila kita menghayati dan meresapi dasar-dasar yang tercantum dalam Pancasila, Insya Allah, kita akan mampu dan siap untuk menghadapi ancaman itu," pungkas Boediono.

Reporter : Fernan Rahadi
Redaktur : Djibril Muhammad
797 reads
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda