Jumat, 28 Ramadhan 1435 / 25 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Massa Buruh Tuntut Kesejahtaraan di Depan Istana

Selasa, 01 Mei 2012, 13:33 WIB
Komentar : 1
Antara
Demo Hak Buruh
Demo Hak Buruh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebanyak 100.000 buruh yang merupakan gabungan dari sejumlah serikat pekerja menggelar aksi unjuk rasa Hari Buruh yang menuntut kesejahteraan bagi kaum buruh di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (1/5). Massa berasal dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Konferensi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Konferensi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Konferensi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Jaringan Nasional Advokasi (JALA) PRT, Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia), dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Mereka memadati kawasan Silang Monas Utara, depan Istana Merdeka. Buruh-buruh menuntut agar pemerintah serius memperhatikan kesejahteraan buruh, yang di antaranya menjalankan jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat per 1 Januari 2014 (termasuk para guru bantu, honorer, kontrak) selama seumur hidup melalui penerima bantuan iuran (PBI) serta jalankan jaminan pensiun wajib untuk buruh per 1 Juli 2015.

Kemudian mereka juga menuntut agar kebutuhan hidup layak (KHL) ditingkatkan melalui revisi Permenakertrans No. 17 tahun 2005 tentang KHL. Selain itu tuntutan agar dihapuskannya sistem "outsourcing" (penyerapan tenaga kerja dengan kontrak), memberikan subsidi buruh dan keluarganya melalui APBN/APBD (subsidi perumahan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi) serta menjadikan 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional.

Massa kemudian membubarkan diri untuk menuju Gelora Bung Karno pada pukul 13.00 WIB, setelah berorasi selama lebih dari satu setengah jam. Aksi unjuk rasa berjalan tertib tanpa ada gangguan apapun, sementara hingga berita diturunkan lalu lintas di sekitar Istana Merdeka masih dialihkan karena beberapa demonstran masih berada di sekitar Istana

Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber : Antara
"Orang munafik adalah orang yang banyak mencela, dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan saudaranya"((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar