Jumat, 18 Jumadil Akhir 1435 / 18 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

BBM Naik, Rakyat Makin Menderita

Sabtu, 10 Maret 2012, 08:24 WIB
Komentar : 0
globalmuslim.web.id
Pengentasan kemiskinan masih jauh panggang dari api (ilustrasi).
Pengentasan kemiskinan masih jauh panggang dari api (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA---Kenaikan harga bahan bakar minyak akan menambah beban masyarakat miskin. Bahkan, beban itu hingga 50 persen. "Hal itu terjadi karena adanya korelasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan kenaikan harga kebutuhan mayoritas struktur pengeluaran masyarakat miskin, yakni konsumsi dan transportasi," kata pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Ahmad Ma'ruf.

Menurut dia, pengeluaran masyarakat miskin sekitar 70 persen adalah untuk kebutuhan makan, minum, dan transportasi. Sisanya baru untuk pendidikan dan kesehatan. "Jadi, tidak mungkin jika implikasi kenaikan harga BBM hanya delapan persen. Masyarakat miskin nanti tidak hanya akan menanggung beban sebanyak delapan persen seperti yang dibicarakan di Jakarta, tetapi 50 persen," katanya.

Dengan demikian, kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu, dampak yang timbul akibat kenaikan harga BBM tersebut akan menambah beban masyarakat miskin menjadi semakin berat.

Ia mengatakan dengan naiknya harga BBM, masyarakat miskin dipaksa menanggung beban yang lebih berat. Secara substansial kenaikan harga BBM yang saat ini diwacanakan merupakan pilihan yang memaksa.

"Pilihan yang diberikan pemerintah untuk masyarakat miskin adalah pilihan yang sama-sama memberatkan. Masyarakat miskin disuruh memilih, BBM naik Rp 1.000 atau Rp 1.500 itu sama saja dengan pemaksaan untuk menambah beban," katanya.

Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : Antara
Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Sapto Selasa, 20 Maret 2012, 23:21
Yang nyata Indonesia harus bisa "BERDIKARI" berdiri diatas kaki sendiri maksudnya kerahkan anak bangsa untuk mengelola sumber daya alam berikanmereka itu kepercayaan dan kasih sayang yang penuh maka mereka pasti bisa sejajar membuktikan diri bahwa Putra-putri Indoensai Bukanlah Manusia yang GAPTEK.
  lingga Minggu, 11 Maret 2012, 21:58
BBM naik karena gaji PNS dah naik duluan.....Liatin aja, yg lakukan kebijakan kaya gini akan nyesel seumur2.....
  arjuna Minggu, 11 Maret 2012, 20:50
Tidak seharusnya Indonesia memahalkan minyak untuk rakyatnya karena faktanya Indonesia merupakan surganya minyak mentah hanya saja pengelolaannya bermasalah dan lebih percaya kepada asing daripada anak bangsa. sudah saatnya Indonesia mandiri dan kembali menjadi macan Asia dengan Islam
  Fauzan Suhada Sabtu, 10 Maret 2012, 08:54
Sudah 66 tahun..kesiapan infrastruktur energi belum terlaksana?..selama ini kemana aja pemerintah?..Pemerintah harusnya memikirkan diversifikasi energi untuk melepaskan ketergantungan pada minyak..Merupakan kesalahan grand design energi kita selama 66 tahun!!!