Inilah Beda Sistem Pertahanan Israel, Iran, dan Indonesia

Sabtu, 04 Pebruari 2012, 09:54 WIB
cbsnews.com
Inilah Beda Sistem Pertahanan Israel, Iran, dan Indonesia
Tes penembakan rudal oleh Israel

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Program Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Joko Purwono, menjelaskan mengapa Israel lebih tangguh dan unggul dalam teknologi pertahanan udara dibanding negara lain. Menurut Joko, kondisi itu tercipta lantaran Israel merasa pertahanannya terancam dan terintimidasi dengan negara sekitarnya di Timur Tengah.

Untuk bisa bertahan, paparnya, negeri Zionis tersebut berupaya meningkatkan kekuatan pertahanan udaranya untuk mengontrol ancaman dari luar. Caranya dengan terus mengembangkan teknologi berbagai pesawat tempur hingga pesawat intai tanpa awak alias unmanned aerial vehicle (UAV). "Mereka merasa tidak tenang, dan untuk survive Israel terus berinovasi mengembangkan teknologi pesawatnya hingga bisa canggih," ujar Joko kepada Republika, Sabtu (4/2).

Joko melanjutkan, pola yang sama juga terjadi di Iran. Merasa negaranya menjadi incaran Israel dan Amerika Serikat (AS), serta tidak bakal dibantu negara Teluk lainnya, maka pihak militer berkomitmen mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak.

Iran terus berpacu mengejar ketertinggalan teknologi dengan banyak mempelajari teknologi luar. Alhasil, beberapa waktu lalu Iran sukses merontokkan pesawat intai AS dan Israel yang mencoba menyusup masuk ke wilayah udara negara Para Mullah tersebut. "Iran berjuang mengembangkan teknologi pesawatnya hingga sudah tahap canggih, tapi teknologi dan industri pertahanan Israel sudah jauh lebih maju karena sudah mengembangkannya lebih dulu," kata Joko.

Untuk Indonesia, Joko mengaku sangat prihatin sebab dapat dikatakan tertinggal akibat tidak adanya komitmen pemerintah. Ini karena pemerintah masih sibuk pada program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan alokasi APBN sangat minim untuk pengembangan industri alutsista dalam negeri.

Padahal sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bangsa ini tidak kalah dibandingkan dengan negara lainnya. Sayangnya, hanya kurang mendapat kesempatan dan pelatihan.

Namun, lanjut Joko, belakangan ini pemerintah mulai sadar untuk menggiatkan program peningkatan alutsista, termasuk pembelian pesawat intai untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia. "Bagus sekarang sektor pertahanan dihidupkan pemerintah. Tapi, lebih baik beli pesawat dalam negeri, bukan luar negeri," kritik Joko.

Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Erik Purnama Putra
Seseorang datang kepada Nabi saw: Ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, belum berhaji ia meninggal, apakah aku harus berhaji untuknya? Beliau bersabda: "Ya, berhajilah untuknya, Bayarlah pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati.(HR Muslim)
gilas salit, Minggu, 5 Pebruari 2012, 19:16

Kalau kita punya kemampuan untuk mengembangkan pesawat intai sendiri kenapa harus beli dari luar.Dukung pengembangan kemampuan kita dalam kemandirian bangsa.

Balas
mns, Sabtu, 4 Pebruari 2012, 17:26

Biasa beli dari luar plus dapet fee dari vendor and pembuat,(Tipikal para calo). Perlu ditinjau ulang cara-cara yg kaya gitu,... lebih baik beli dari dalam negeri plus dikasih dana riset supaya bisa bersaing dengan bangsa lain.

1 Balasan
andihandoko, Minggu, 5 Pebruari 2012, 20:48

satujuuuuuuu pisan bray!

Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...