Jumat, 16 Ramadhan 1436 / 03 Juli 2015
find us on : 
  Login |  Register

Larangan Miras Perlu Dijadikan UU

Selasa, 17 Januari 2012, 20:40 WIB
Komentar : 1
Antara/Dhoni Setiawan
Petugas menggunakan alat berat memusnahkan ribuan botol minuman keras (miras).
Petugas menggunakan alat berat memusnahkan ribuan botol minuman keras (miras).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharapkan aturan larangan miras di-Undang-undang-kan. Dengan demikian, larangan miras dapat berlaku secara nasional.

Ketua Harian MUI, Ma'ruf Amin, menjelaskan aturan larangan yang tertuang dalam perda memiliki faedah berupa suasana kondusif di masyarakat. Apabila secara konstitusi aturan larangan miras statusnya ditingkatkan menjadi UU, suasana kehidupan bermasyarakat diharapkan akan semakin kondusif.

Ia pun menyesalkan instruksi Mendagri yang meminta pemerintah daerah mencabut perda tentang miras. Sebab, dalam aturan yang ada, terdapat aspirasi masyarakat. Aspirasi itu selanjutnya mendapat dukungan konstitusi.

"Karena itu, instruksi Mendagri harus dicabut dan buatlah undang-undang tentang miras," ungkap Ma'ruf saat berbincang dengan Republika.co.id, Selasa (17/1).

Menurut Ma'ruf, larangan miras jangan dianggap sebagai persoalan sepele. Sebab, ada masyarakat yang harus dilindungi. Minum keras itu tidak memiliki manfaat positif bagi masyarakat. Sebaliknya, miras memiliki dampak negatif begitu besar menyangkut masalah kriminalitas di masyarakat.

"Agama bertugas menjaga umat dari konsumsi miras. Selanjutnya, aturan formil melengkapinya sehingga masyarakat berpikir dua kali mengkonsumsi miras. Jadi, agama dan aturan hukum sangat efektif membentengi umat luar dalam dari miras," pungkas dia.

Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Didi Purwadi
Hai Bani Israil, ingatlah akan nimat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al-Baqarah [2]:122)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Ramadhan, Momentum Menjaga Keluarga dari Jilatan Api Neraka
BANDUNG — Aktivis perempuan Netty Heryawan mengatakan tidak ada institusi yang mampu menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa kecuali dimulai dari institusi kecil...