
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan menteri otonomi daerah Ryaas Rasyid punya pengalaman menarik dengan mendiang presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Ketika gonjang-ganjing politik meningkat di akhir masa presiden BJ Habibie, Ryaas dalam sebuah perbincangan dengan Gus Dur diberitahu kalau cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut bakal menjadi presiden.
Sontak mendengar penjelasan itu Ryaas kaget dan tidak percaya. Kekagetannya malah menjadi-jadi ketika diceritakan kalau Gus Dur bakal terpilih menjadi presiden setelah mendapat petunjuk dari Tuhan.
Ryaas seketika mengucapkan argumen kalau setelah era Nabi Muhammad SAW wafat, tidak ada lagi percakapan langsung antara Tuhan dengan manusia. Mendengar jawaban itu, langsung saja Gus Dur menegaskan kalau pesan itu datang dari langit.
"Tapi, tidak lama kemudian dia benar terpilih menjadi presiden menggantikan Pak Habibie," ujar Ryaas dalam acara Mengenang Dua Tahun Wafatnya Gus Dur di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di kompleks Widya Candra, Senin (2/1) malam.
Hadir dalam acara itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, mantan ketua PBNU Hasyim Muzadi, mantan ketua umum Partai Golkar Akbar Tanjung, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifudin, mantan menteri perdagangan Luhut Panjaitan, mantan menteri otonomi daerah Ryaas Rasyid, dan teman dekat Gus Dur sekaligus tokoh Muhammadiyah Muslim Abdurrahman, serta para politisi dan pejabat negara era presiden Gus Dur.
hanya orang2 bodoh yg menilai seseorang hanya dari sisi luar/phisiknya saja. KEHENDAK ALLAH diluar jangkauan nalar manusia
Balasjgnlah menilai seseorang hanya dari sisi luarnya aja, kelebihan yg diberikan ALLAH pada umatnya takkan bisa dilihat oleh kasat mata...melainkan oleh mata bathin yg terdalam dan hanya bisa kita rasakan serta kebenaran2 segala yg pernah diTITAHkannya....
Balasilmu masih rendah aja mau mencela yang ilmunya lebih tinggi... sadar diri donk!!!
BalasSaya rasa nggak usah berlebihan, Gusdur ya manusia biasa dan kita nggak boleh mengkultuskannya. seringkali orang terlalu berlebihan, jangan sampai kita semua terjebak dg perilaku syirik.
BalasSelama kita tidak bisa membuktikan bahwa apakah wali atau bukan, maka yang bijaksana adalah kita tidak membenarkannya apalagi menyalahkannya... mengkultuskannya apalagi mencelanya..... Diam jauh lebih baik....
Balas