Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Wamenhan: Wajib Militer Sulit Diterapkan

Minggu, 18 Desember 2011, 13:35 WIB
Komentar : 0
Antara
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Syafrie Syamsuddin
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Syafrie Syamsuddin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Syafrie Syamsuddin menilai sulit menerapkan kebijakan wajib militer kepada masyarakat Indonesia. Menurut dia, kondisi geografis dan jumlah penduduk Indonesia berbeda dengan negara lain, seperti Singapura, yang menerapkan wajib militer.

Apalagi, imbuh dia, penerapan wajib militer di Indonesia membutuhkan biaya besar kalau mau diterapkan. Sehingga kebijakan tersebut sulit dilaksanakan.

"Untuk memobilisasi warga agar ikut wajib militer sulit dilakukan. Tapi, yang penting semangat juang bela negara harus tetap ada," ujar Syafrie di sela peringatan Hari Bela Negara di kantor Kementerian Pertahanan, Ahad (18/12).

Dikatakannya, untuk menyiasati penetrasi negara lain, pihaknya terus menanamkan pendidikan kebangsaan kepada prajurit TNI dan komponen cadangan nonmiliter, serta masyarakat. Dengan begitu, semangat juang seluruh rakyat Indonesia tetap terjaga dan selalu siap membela Tanah Air. Karena itu, pihaknya tidak khawatir dengan sistem pertahanan negara sebab setiap rakyat siap membela negara kalau dibutuhkan. "Kalau keadaan darurat, tidak disuruh pun semuanya siap angkat senjata," katanya.

Syafrie menilai, kesadaran membela negara menjadi pilar penting terciptanya kerukunan warga yang menjadi modal persatuan dan kesatuan agar NKRI tetap terjaga. Dia menyatakan, kepedulian membela negara tidak melulu berarti harus militeristik. Melainkan, pemahaman dan rasa cinta Tanah Air masyarakat kepada bangsa dan negaranya dengan selalu membela ketika ada ancaman muncul.

Atas dasar itu, pihaknya menyebut wajib militer tidak mendesak diberlakukan di Indonesia. "Tidak harus jadi militer untuk berjuang. Semuanya bisa membela negara," kata mantan panglima Kodam Jaya tersebut.

Reporter : Erik Purnama Putra
Redaktur : Djibril Muhammad
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) bernilai sedekah bagimu((HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  yossy Senin, 26 Desember 2011, 14:58
kl yg lain g mau, saya mau ikut wajib militer..... sangat mengharapakn adanya wajib militer. biar ak bisa ikut.... Pak mentri liat aja org yg mau..... dan pilihlah mrk....
  bio13 Senin, 19 Desember 2011, 07:44
Gak sesulit itu pak, mulai dari yang mau bikin SIM aja dulu biar disiplin di jalan raya
  realis Minggu, 18 Desember 2011, 18:07
aemangat nya bukan utk berperang. tapi pendidikan. kedisiplinan dll. rasaanya memang perlu utk memperbaiki budaya di masy yg sudah bobrok
  rahmat Minggu, 18 Desember 2011, 15:10
lihat negara maju,kalau mau maju. Singapura,USa,EU mereka melaksanakan w sdh diwajib militer untuk membekali para pemuda nilai2 cinta negara,kedisiplinan, dan pola pikir.kalau dikita,apa??pancasila saja sdh mulai luntur??kalo masalah biaya sberapa besar sih dgn yg di korup??