Selasa , 16 August 2011, 23:05 WIB

Difilmkan, Tragedi Kemanusiaan Ulah Rezim Orba Akibat Peristiwa 1965

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta menggelar diskusi dan pemutaran film dokumenter tentang tragedi 1965 karya Dosen Antropologi Universitas Of California, Los Angeles, Amerika Serikat, Selasa (16/8).

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T Wardaya di Yogyakarta, Selasa (16/8), mengatakan film berjudul "40 Years Of Silence : An Indonesian Tragedy" itu ingin mengingatkan masyarakat Indonesia tentang tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh kekuasaan militer dan rezim orde baru.

Film berdurasi 86 menit itu, kata dia mencoba menarasikan dampak kekejaman rezim orde baru dan militer pada 1965 terhadap para keluarga korban, yang dianggap menjadi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Meski terasa pahit dan menyakitkan, film itu ingin mengingatkan masyarakat agar tidak lupa terhadap sejarah dengan cara menggali kehidupan keluarga korban," katanya.

Menurut dia, melalui film itu, masyarakat banyak mendapatkan gambaran tentang sejarah alternatif di luar versi pemerintah. "Sejarah perlu ditelisik dari berbagai sumber atau suara-suara yang terbungkam agar masyarakat memiliki pandangan yang berbeda sehingga mereka bisa kritis," katanya.

Dia mengatakan Rob Lemelson membutuhkan waktu selama 12 tahun, yakni pada 1997 hingga 2009 untuk menciptakan film tersebut.

Film yang mengambil latar Jawa dan Bali itu mengupas kehidupan empat keluarga dari Jawa dan Bali, yang mengalami penderitaan dan kepahitan hidup akibat kekejaman militer dan orde baru.

Stigma buruk masyarakat terhadap keluarga eks tahanan politik pada masa 1965, kata dia dinarasikan secara utuh dalam film ini. Menurut dia, pemutarbalikan sejarah pada masa itu memberikan dampak buruk bagi para keluarga eks atau mantan tahanan politik pada 1965.

Oleh karena itu, film ini ingin menonjolkan sejarah langsung dengan menggali pengalaman pribadi keluarga yang menjadi korban tragedi 1965. "Para keluarga korban juga hadir dalam diskusi ini untuk berbagi pengalaman tentang stigma buruk yang masih melekat di lingkungan mereka," katanya.

Perupa yang juga menjadi korban trgaedi 1965, Djoko Pekik mengatakan peristiwa itu memberikan trauma berat bagi para korban. Untuk melawan trauma itu, Djoko Pekik mengatakan terus melukis dengan tema perlawanan, salah satunya adalah melalui karya besarnya, yakni lukisan berjudul Berburu Celeng.

Sementara itu, salah satu korban tragedi 1965, Budi mengatakan keluarganya dituduh sebagai komunis sehingga dia mengalami trauma berat secara berkepanjangan.

Dampak dari stigma buruk sebagai keluarga PKI, kata dia membuat Budi sempat putus sekolah. "Saya mendapatkan perlakukan yang berbeda di masyarakat, tidak bisa merasakan kebebasan bersekolah seperti anak-anak yang lain karena saya dianggap sebagai keluarga PKI," katanya.

Senada, salah satu korban tragedi 1965 asal Klaten, Paulus, mengatakan sempat diadili tanpa proses hukum di Klaten. Ia dianggap terlibat dengan PKI.

"Tanpa kesalahan yang jelas saya dipenjara selama tiga tahun karena dianggap menjadi simpatisan PKI. Rezim Soeharto tidak lebih baik ketimbang Hitler," katanya.

Sumber : Antara