Rabu, 22 Juni 2011, 16:48 WIB

BKKBN: Berisiko Besar, Pernikahan Usia Dini Perlu Dicegah

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON - Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Dr Sugiri Syarief MPH mengatakan demi menyelamatkan generasi mendatang BKKBN berupaya menekan angka pernikahan usia dini.

"Pencegahan pernikahan dini di wilayah pantura Cirebon terutama Kabupaten Indramayu menjadi prioritas karena di daerah tersebut cukup tinggi angka perkawinan muda tersebut," katanya di acara peringatan Hari Keluarga ke-18 tahun 2011 yang berlangsung selama satu hari di Alun-alun Pataraksa, Sumber, Kabupaten Cirebon, Jabar, Rabu (22/6).

Ia mengatakan acara tersebut digelar untuk menyosialisasikan programnya di kawasan pantura baik di Cirebon, Tegal, Brebes juga Kabupaten Indramayu karena angka pernikahan dini di daerah itu masih tinggi. Dia menjelaskan BKKBN akan terus memberikan pengarahan dampak buruk dari perkawinan muda. Akibat pernikahan dini, ujarnya, masa depan mereka terhambat.

"Menjadi ibu diusia muda sangat beresiko karena mentalnya belum siap mengurus keluarga, sehingga yang menjadi korban anak keturunannya, anak-anaknya tidak terpenuhi pendidikan, pengalaman sebagai orang tua belum saatnya," katanya.

Dia menuturkan, pernikahan dini paling tinggi saat ini terjadi di Kabupaten Indramayu. Kondisi sosial budaya mereka harus segera diubah, supaya kebiasaan kawin usia muda dapat ditekan. Program BKKBN dalam memerangi pernikahan dini terutama ditargetkan kepada orang tua mereka.

"Kultur daerah pantura terutama Kabupaten Indramayu memang susah diubah, namun kami berupaya agar mereka lebih mengerti dan menyadari efek negatif perkawinan dini," katanya. Ia mengatakan kawin muda akan memperburuk masa depan bangsa, jika hal itu terus ditekan maka generasi seterusnya akan lebih baik. Ia berharap meski berat mengubah kultur pantura tapi tetap berusaha semaksimal mungkin.

Sumber : Antara